KARANGASEM – Kegiatan belajar dari rumah (BDR) secara daring di Karangasem mulai menuai persoalan. Sejumlah orang tua murid kini mulai mengeluh soal praktik pembelajaran secara daring.
Sejumlah wali murid mengeluh lantaran banyak persoalan yang muncul. Di antaranya soal biaya kuota yang membengkak, soal jaringan yang terkadang tersendat hingga soal penyediaan ponsel android yang harus dipenuhi oleh kebutuhan anak.
Menyikapi hal tersebut Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Karangasem, I Gusti Ngurah Kartika, menyatakan akan mengevaluasi pola BDR. Dia menyebutkan sampai saat ini di Karangasem masih belum bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka sebab belum memenuhi syarat zona.
‘’Karena yang boleh melaksanakan pembelajaran tatap muka ialah di daerah berzona hijau dan kuning. Namun di Karangasem belum berkesempatan seperti itu, karena masih berada pada zona orange terkadang juga merah,’’ ucap Gusti Ngurah Kartika, Selasa (25/8).
Dia menyebutkan, di Bali sendiri hanya ada dua Kabupaten yang sudah melaksanakan pembelajaran tatap muka, yakni Kabupaten Tabanan dan Negara. Itupun kadang buka, kadang tutup sekolahnya karena menurut juga dampak perkembangan Covid-19 di sana.
“Untuk di Karangasem, sejak bulan Maret hingga sampai saat ini masih mengambil sistem pembelajaran jarak jauh berupa daring. Sedangkan untuk pembelajaran tatap muka kita masih menunggu kebijakan lebih lanjut dari pusat. Saya tidak ingin ada siswa-siswi di Karangasem terdampak Covid-19,’’ kata Gusti Ngurah Kartika.
Terkait kendala BDR, sambung Gusti Ngurah Kartika, pihaknya sudah berkoordinasi dengan sekolah agar bisa mengkombinasikan PBM secara daring maupun luring. Dengan begitu, wilayah yang tak belum bisa terakses layanan internet bisa tetap belajar, pun siswa tak terbebani dengan biaya kuota internet.
Gusti Ngurah Kartika menegaskan, terkait pendidikan pemerintah pusat provinsi/kabupaten masih mempertimbangkan hal itu, agar jangan dulu sampai membuka sistem belajar tatap muka. Jika dibuka memungkinkan nanti terjadi hal yang tidak diinginkan.
‘’Pemerintah mengutamakan kesehatan dulu. Walaupun pendidikan prosesnya agak tersendat karena ini sifatnya nasional, seluruh dunia terdampak seperti ini sebaiknya kita bersabar demi kebaikan kita bersama,’’ pungkas Gusti Ngurah Kartika. 017
























