DENPASAR – Tidak pakai lama, Partai Golkar Bali dan Nasdem Bali langsung membuat akad koalisi untuk menantang hegemoni PDIP dalam Pilkada 2020 di Bali. Kedua partai sepakat bersekutu untuk maju dalam gerbong yang secara seloroh dinamakan Koalisi Arjuna. “Ya ini koalisi Arjuna. Soal siapa Krisna (sebagai pembimbing Arjuna), itu bukan orang, tapi pola pikir kita yang membentuk keyakinan,” kata Ketua DPD Partai Golkar Bali, Nyoman Sugawa Korry, usai deklarasi koalisi di Denpasar, Kamis (4/6).
Penggunaan sebutan Arjuna tak lepas dari pernyataan Sugawa saat sambutan bercerita tentang Arjuna. Kata dia, keraguan Arjuna perang melawan Kurawa, karena belum sepenuh hati meyakini kebenaran. Namun, nasihat Krisna yang meyakinkan kemenangan akan diraih jika yakin dengan nilai kebenaran, membuat semangat Arjuna bangkit. Hal sama terjadi pada banyak parpol yang ragu di pilkada, terutama di daerah yang petahana dinilai kuat mencengkeram.
“Tetapi setelah ditandatanganinya koalisi dengan Nasdem untuk mewujudkan sesuatu lebih baik, kita tidak perlu ragu lagi. Bu Mas Sumatri (Bupati Karangasem) apanya lagi diragukan? Kita juga yakin Bangli menang karena benar berjuang,” serunya.
Nasdem juga bukan satu-satunya partai yang diajak bergabung dalam gerbong koalisi. Setelah ini Golkar akan menyambangi Demokrat, Hanura, PSI, dan Gerindra dan partai lain untuk melahirkan pasangan calon ideal di pilkada, terutama di daerah yang belum ada paslon yang diusung. Meski berama-ramai, tapi Sugawa menolak opini bahwa manuver itu untuk mengeroyok PDIP yang paslonnya sudah tersedia sejak awal. “Tidak ada istilah mengeroyok, kami ini membangun koalisi sehat untuk berkompetisi,” kelitnya.
Ketua DPW Partai Nasdem Bali, IB Oka Gunastawa, menimpali, koalisi terjalin karena ada kesamaan visi. Meski sekarang ada pandemi Covid-19 alias Corona, tapi kehidupan tidak boleh berhenti. Termasuk untuk mendapat pemimpin lebih baik lewat pilkada. Koalisi dinilai bagus untuk demokrasi, karena “banyak warna” memberi harapan baru daripada hanya satu “warna”.
“Baru dua warna saja sudah cerah, apalagi ada warna lain? Kurang meriah kalau satu warna,” sindirnya. “Kalau dulu ada pilkada rasa pilpres, sekarang ini pilkada rasa Corona,” sambungnya memancing tawa.
Terkait kluster kejutan yang disiapkan Golkar, Gunastawa mengklaim ada calon yang dilirik di Denpasar dan Badung. Nasdem tidak masalah jika calonnya bukan kader Nasdem, termasuk bila Nasdem hanya kebagian calon orang kedua. “Tidak masalah kader atau bukan kader, nomor satu atau nomor dua, yang penting punya kapasitas dan sesuai harapan Nasdem,” urainya tanpa merinci harapan apa yang dimaksud.
Dia melanjutkan, fenomena Corona membuktikan sejauh mana ketulusan seorang pemimpin di masyarakat. Jika tidak bagus, jangan salahkan rakyat mengambil alih komando. Corona juga disebut mengajarkan berpolitik tidak harus dengan uang banyak, dan tidak harus mencekam. “Politik gembira itu ujungnya untuk sejahtera, bukan kekuasaan. Kalau ada permusuhan, itu hanya panggung demokrasi saja untuk memberi pilihan terbaik ke masyarakat,” tegasnya. hen
























