Kader Golkar Belum Mampu Saingi Koster, Pilgub Bali Ada Kemungkinan Paslon Tunggal

WAKIL Koordinator Bappilu Wilayah Bali DPP Partai Golkar, Dewa Made Widnyana Nida. Foto: hen

DENPASAR – Belum ada tanda-tanda calon penantang potensial untuk petahana I Wayan Koster dalam Pilgub Bali 2024, melahirkan tengara kontestasi politik itu akan mengulang fenomena paslon tunggal sebagaimana terjadi pada Pilkada Badung 2020. Partai Golkar yang biasanya menjadi seteru politik PDIP, sejauh ini melihat sosok Koster masih terlalu kuat untuk ditandingi.

“Kalau lawan masih kuat, buat apa juga kami berbenturan? Selain itu, jangankan menyamai, di Golkar sampai hari ini kader yang potensial menyaingi Pak Koster saja belum ada,” sebut anggota Wakil Koordinator Bappilu Wilayah Bali DPP Partai Golkar, Dewa Made Widnyana Nida, Senin (21/3/2022).

Bacaan Lainnya

Meski sebagai kader Golkar, Nida berkata harus fair melihat realita politik saat ini. Dia menilai secara umum pemerintahan Koster berjalan bagus dengan gencarnya pembangunan infrastruktur. Terlepas selama ini di media sosial banyak yang merisak kebijakan dan pribadi Koster, hal itu dinilai wajar dalam iklim demokrasi.

“Pak Koster katanya tidak disukai di Bali, tapi faktanya proyek pembangunan dari pusat banyak diberikan ke Bali. Artinya apa? Artinya dia dinilai mampu sebagai Gubernur,” ucapnya kalem.

Dalam kontestasi politik, urainya, perlu tiga “O” yakni otak, otot, dan ongkos. Tidak bisa hanya menonjolkan kemauan, tapi menepikan kemampuan. Ketika tiga “O” tadi tidak mumpuni, buat apa juga partai bersusah payah berkompetisi? “Kalau tiga ‘O’ itu kita tidak kuat, pakai ‘O’ keempat yakni oyongang ragane (lebih baik diam saja). Jangan sampai kalau terlalu memaksa, nanti berat di ongkos dan hasilnya juga kalah,” kelakarnya.

Baca juga :  Sidangkan Penjual Arak, Hakim Bayarkan Denda Lima Terdakwa

Disentil pernyataannya terkesan mengerdilkan eksistensi Golkar di Bali, Nida mendaku dia hanya menjawab apa adanya. Namun, jika ada kader siap untuk berkompetisi, apalagi Ketua DPD Partai Golkar Bali siap, maka partai akan mendorong dan memperjuangkan untuk mencapai kemenangan.

Bahwa pernyataannya bernada pesimis, Nida beralasan DPP tidak hanya melihat Pilgub Bali saja, karena Pilkada 2024 dilakukan serentak.

Nida belajar dari pengalaman Pilkada 2020 lalu, yang menurutnya partai terlalu mengikuti irama untuk beradu dengan PDIP di Bali. Sudah tahu hasil surveinya kecil, tapi paslon tetap dipaksa bertanding. Kondisi itu membuat kader berdarah-darah tapi tetap kalah telak.

“DPP kasihan dengan kader, makanya kalau tidak potensial jangan dipaksa, lebih baik diam dulu. Lagipula yang menentukan akan beradu atau koalisi kan DPP, bukan di daerah,” bebernya.

Soal potensi Golkar memilih bergabung dengan gerbong PDIP kelak, Nida melihat sangat mungkin terjadi. Pengalaman Pilkada Badung 2015 dan 2020 dengan Golkar satu irama dengan PDIP dijadikan referensi.

“Orang boleh tidak suka dengan omongan saya, tapi realitanya kan begitu? Semua kembali ke ongkos, jangan sampai sudah bertanding nanti di tengah jalan kehabisan bensin, kasihan juga,” ungkapnya.

Bahwa pemikiran Golkar terlalu pragmatis dalam berpolitik, Nida menjawab semua partai pasti ingin kemenangan dalam berkontestasi. Jika memang sudah pasti kalah buat apa dipaksakan? Dia mencontohkan banyak provinsi dan kabupaten/kota yang posisi Golkar bersekutu dengan PDIP, bukan jadi seteru.

Baca juga :  Lotim Bebaskan Pajak Hotel dan Restoran

“Kalau ada calon yang ngotot, ya kami menyilakan. Tapi kita bicara hari ini lebih baik bergabung, di Bali itu baiknya koalisi Merah-Kuning,” lugasnya seakan mengirim sinyal undangan untuk koalisi besar kepada PDIP.

Nida tak memungkiri jika skenario koalisi Merah-Kuning terwujud, berarti Golkar ada kemungkinan minta jatah calon Wakil Gubernur. Hanya, sambungnya, tetap saja bergantung kondisi daerah.

Harus tetap tahu diri siapa yang nomor 1 dan siapa nomor 2, seperti Pilkada Badung tahun 2015 dengan Ketut Suiasa selaku kader menjadi calon Wakil Bupati mendampingi Nyoman Giri Prasta.

Bila benar berkoalisi, berarti itu kabar buruk untuk Tjokorda Oka Arta Ardhana Sukawati alias Cok Ace selaku Wakil Gubernur saat ini? “Ya bisa saja begitu, tapi namanya politik kan semua kemungkinan bisa terjadi,” pungkasnya, masih dengan nada kalem. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.