Harga Meningkat, Labu Siam Diserang Lalat Buah

  • Whatsapp
PETANI labu siam saat memilah-milah buah yang masih utuh untuk dijual. Foto: gia
PETANI labu siam saat memilah-milah buah yang masih utuh untuk dijual. Foto: gia

BANGLI – Labu siam banyak ditanam di daerah Kintamani, khususnya Desa Pinggan. Bayang-bayang kerugian kini menghinggapi petani buah, yang di Bali dikenal dengan nama jepang itu, di Desa Siakin, Kintamani. Sejak beberapa bulan terakhir serangan lalat buah makin ganas, yang menyebabkan buah membusuk, dan batang tanaman yang diserang menjadi layu.  

I Nyoman Sumantra, salah seorang petani labu siam, Kamis (11/3/2021) bertutur petani labu siam di Desa Siakin kini sedang cemas sejak ganasnya serangan lalat buah. “Biasa jenis lalat buah ini menyerang tanaman jeruk, tapi belakangan ini mulai menyerang tanaman labu siam,” ujar mantan Kadisdukcapil Bangli itu.

Bacaan Lainnya

Meningkatnya serangan lalat buah ini, kata dia, akibat tingginya curah hujan, sehingga menyebabkan kelembaban lahan labu siam tinggi. Banyak petani yang sampai membabat tanaman labu siamnya, karena ulat ini menyerang batang tanaman.

Untuk penanganan, dia berujar berbagai upaya telah dilakukan petani guna menangkal serangan ulat buah ini. Misalnya memasang perangkap lalat, ada juga yang tidak memangkasan daun agar tanaman rimbun, sehingga lalat buah sulit masuk. Sayang, cara ini justru menimbukan efek lain, yakni robohnya rumah rambatan jipang karena terlalu berat. “Kalau saya mencoba dengan memasang tetro genol, tapi tidak efektif,” dakunya.

Baca juga :  Strategi Uji Petik Sekda-BPKAD, Pantau Potensi Yakinkan Galian C Meningkat

Masalah kerugian, dia mengakui cukup besar. Untuk lahannya yang tidak begitu luas, dalam seminggu dalam situasi normal bisa panen sebanyak tiga kali. Sekali turun bisa mendapat penjualan Rp1,2 juta. Jika dalam sebulan bisa panen tiga kali, berarti total penjualan Rp3,3 juta. Harga labu siam saat ini juga sangat menggiurkan, karena dalam satu tas plastic merah laku terjual Rp30 ribu.

Terkait  ganasnya serangan lalat buah ini, dia berharap Dinas Pertanian Bangli melalui PPL bisa membuka ruang konsultasi kepada petani yang mengalami pemasalahan. Dalam grup diskusi ini, Dinas Pertanian bisa merangkul pakar pertanian dari universitas seperti Unud atau yang lainnya. Dengan demikian, petani bisa ada ruang diskusi dan mencari solusi atas permasalahan di lapangan.

Perbekel Siakin, I Gede Desi, membanarkan serangan lalat buah di desanya mengganas. Hampir semua tanaman labu siam petani di desanya diserang, cuma intensitas antara petani yang satu dengan lainnya berbeda. Lalat buah ini tidak saja meyerang buah jipang, tapi juga menyerang batang tanaman. “Serangan ini memang rutin terjadi setiap tahun saat musim hujan,” katanya.

Dia juga membenarkan serangan ini mengakibatkan kerugian cukup besar bagi petani. Apalagi harganya saat ini sedang melonjak, dengan mencapai Rp125 ribu per 200 biji. Karena serangan lalat buah ini, para pengepul yang menjual ke luar daerah kesulitan mendapat buah. Pengiriman ke luar daerah jadi terhenti. “Kenaikan harga ini dipicu sedikitnya buah labu yang dihasilkan petani lantaran diserang lalat emas, dari bunga hingga buah yang masih muda jadi busuk,” sebutnya prihatin.

Baca juga :  Cegah Covid-19, Tajen Harus Dihentikan

Hal senada disampaikan petani labu siam di Desa Pinggan, Made Wirya. Harga buah labu siam sekarang mulai membaik, setelah sempat anjlok sampai Rp25 ribu per karung isi 200 buah. Labu siam Desa Pinggan sebagian besar dikirim ke Denpasar, bahkan sampai ke Jawa. “Dulu jarang petani menanam labu siam, tapi sejak harganya meningkat petani makin bergairah menanam,” pungkasnya. gia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.