Pasokan Terbatas Sebabkan Harga Cabai Rawit Terus Naik

TIM Disdagperinkop UKM Buleleng saat mengecek harga kebutuhan pokok yang ada di pasar wilayah Kota Singaraja. Foto: ist
TIM Disdagperinkop UKM Buleleng saat mengecek harga kebutuhan pokok yang ada di pasar wilayah Kota Singaraja. Foto: ist

BULELENG – Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Disdagperinkop UKM) Buleleng, melakukan pemantauan di pasar dan beberapa pasar ritel. Pemantauan yang dipimpin Kepala Disdagperinkop UKM Buleleng, Dewa Made Sudiarta, ini untuk memastikan ketersediaan bahan pokok dan harga kebutuhan pokok jelang Hari Raya Nyepi.

Dewa Made Sudiarta berkata, secara umum harga bahan kebutuhan pokok masih stabil. Hanya harga cabai rawit merah yang mengalami kenaikan berada pada kisaran Rp90 ribu sampai Rp100 ribu per kilo.

Read More

‘’Pada minggu ini, hanya harga cabai rawit merah yang tinggi harganya bisa mencapai Rp100 per kilogram. Ini dikarenakan pasokannya yang masih terbatas, karena masih mengandalkan pasokan dari Pulau Jawa,’’ terang Dewa Sudiarta.

Kebanyakan cabai yang ada di pasar Buleleng merupakan cabai dari Jawa. Kenaikan harga disebabkan karena permintaan yang stabil namun pasokannya terbatas. Kondisi tersebut berdampak pada harga cabai rawit.  ‘’Sedangkan komoditas daging, telur, minyak goreng, bawang merah, bawang putih, dan gula pasir masih stabil,” ucap Sudiarta.

Mengenai barang-barang di toko ritel apakah ada temuan atau tidak, Sudiarta berujar telah melakukan pemantauan di empat toko ritel. Dari barang dalam kondisi kemasan terbungkus, tidak ada ditemukan kedaluwarsa.

Untuk barang-barang yang masa kadaluarsanya sudah dekat, sudah diingatkan.  Alat timbangan elektronik digunakan oleh toko ritel, tahun 2020 sudah di tera. Pada November akan di tera ulang untuk tahun 2021.

Sementara itu, tren kenaikan konsumsi jelang Hari Raya Nyepi relatif lebih stabil dibandingkan dengan jelang Hari Raya Galungan dan Kuningan. Kondisi ini menyebabkan harga juga tidak terlalu berpengaruh seperti pada masa-masa menjelang Lebaran atau sebelum Galungan.

‘’Jadi ada peningkatan konsumsi. Tapi tidak signifikan seperti pada saat menjelang Hari Raya Natal, Tahun Baru dan Lebaran. Apalagi sekarang dengan kondisi pandemi begini masyarakat juga harus selektif melakukan kegiatan belanja yang memang sangat diperlukan untuk konsumsi pokok,’’ terangnya memungkasi. rik

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.