Empat Bulan, Lima Pasien Rabies Meninggal di Buleleng

ILUSTRASI kasus rabies. foto: ist

BULELENG – Sejak awal tahun 2022 hingga akhir April 20222, tercatat 5 pasien rabies dinyatakan meninggal dunia di RSUD Buleleng. Terbaru, korban meninggal akibat gigitan anjing rabies terjadi pada Jumat (29/4/2022). Hal ini menunjukan bahwa kasus gigitan anjing rabies kini menjadi masalah serius di Buleleng.

Direktur Utama (Dirut) RSUD Buleleng, dr. Putu Arya Nugraha, Sp.PD., mengatakan, pada tahun ini sudah terdapat 5 kasus suspek rabies yang dinyatakan meninggal dunia. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2021 lalu, yakni seorang laki-laki berasal dari Kubutambahan tepatnya pada bulan Oktober 2021

Bacaan Lainnya

‘’Sampai akhir April (tahun 2022) ini, di sini (RSUD Buleleng) sudah terdapat 5 orang pasien meninggal dunia dengan suspek rabies. Kalau pada tahun 2021, hanya ada 1 korban yakni laki-laki dari Kubutambahan sekitar bulan Oktober,” kata Arya Nugraha di Singaraja, Rabu (4/5/2022).

Diakui Arya Nugraha, penanganan terhadap pasien suspek rabies di tahun 2022 terjadi pada akhir April. Korbannya adalah seorang perempuan berusia 21 tahun asal Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada. Pasien dibawa ke RSUD Buleleng beberapa waktu kemudian usai digigit anjing peliharaannya sekitar Maret lalu.

Baca juga :  Gubernur Koster Salurkan Rp74,65 Miliar ke Desa Adat, Aktifkan Kembali Satgas Covid-19

Awalnya sejak Rabu (27/4/2022), pasien mengalami nyeri dan kesemutan pada tangan kiri, gelisah, sesak napas dan susah untuk menelan makanan. Pasien dibawa ke IGD RSUD Buleleng pada Jumat (29/4/2022) sekitar pukul 07.10 Wita.

Dari hasil pemeriksaan medis, pasien malah menunjukkan tanda-tanda takut air dan udara, serta air liur korban keluar. Tanda-tanda yang ditunjukan oleh pasien itu secara berlebihan, dimana ciri tersebut identik dengan ciri penyakit rabies.

‘’Kata keluarga, pasien digigit anjing bulan Maret di bagian ibu jari tangan kiri. Lalu 3 hari kemudian, anjing itu mati tapi pasien tidak lapor untuk mendapat vaksin antirabies,’’ ujar Arya Nugraha.

Saat dirawat medis, pasien sempat mendapatkan penanganan serta dievakuasi ke ruang isolasi dan air liur korban diambil sebagai sampel.

Selanjutnya tim medis juga sempat menyuntikkan sejumlah obat sebagai upaya untuk memberikan pertolongan terhadap korban. Hanya, sekitar pukul 17.30 Wita kondisi korban melemah, akhirnya korban dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 17.48 Wita.

‘’Gejala pasien memang sesuai rabies tipe agresif, seperti meludah maupun gelisah. Kalau secara medis risiko kematian akibat rabies saat ini 100 persen dan pasien hanya bisa bertahan 2 kali 24 jam, tapi kalau lebih dari itu maka bukan rabies,’’ pungkas Arya Nugraha. rik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.