POSMERDEKA.COM, BANGLI – Anjloknya harga bawang merah di pasaran, membuat Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Bangli bergerak cepat menyikapi. Dinas mengundang penyuluh yang mewilayahi komoditas bawang merah untuk pemetaan potensi bawang merah.
Kadis PKP Bangli, I Wayan Sarma, Selasa (3/10/2023) menuturkan, pemetaan potensi bawang merah sebagai grand design untuk awal perencanaan pengembangan yang lebih baik. Asosiasi bawang di wilayah Kintamani juga perlu ditindaklanjuti.
Dia menyebut permasalahan anjloknya harga terkait kontinuitas ketersediaan barang, sehingga sulit melaksanakan kerja sama jangka panjang. Sebab, daya simpan bawang merah relatif singkat, maksimal dua bulan dalam bentuk bahan baku. Kerja sama antardaerah pernah berjalan di tingkat pemerintah daerah, tapi belum di tingkat pedagang.
Dalam setahun, jelasnya, produksi bawang merah Bangli mencapai 30.000 ton, sedangkan kebutuhan bawang merah di Bali dalam setahun hanya 15.000 ton/tahun. Untuk kelebihan produksi harus dilepas ke luar daerah.
Di kesempatan terpisah, para petani bawang di lereng Kaldera Batur kesulitan gegara merosotnya harga di pasaran. Harga saat ini berkisar antara Rp6.000 sampai Rp9.000 per kilo di tingkat petani. Padahal pada panen sebelumnya, harga bawang sampai menembus Rp25 ribu sekilo.
Kesusahan petani bertambah, karena saat ini biaya produksi mengalami kenaikan. Harga pupuk kandang berupa kotoran ayam naik, begitu juga harga kebutuhan lainnya. Per panen dalam lahan sekitar 15 are, petani harus merogoh kocek Rp5 juta. Penyebab anjloknya harga lantaran musim panen bawang merah di Kintamani bersamaan dengan sentra penghasil bawang merah di Jawa. gia
























