Dampak Cuaca Ekstrem, Produksi Kopi Kintamani Menurun

DAMPAK cuaca ekstrem pada tahun lalu berdampak pada penurunan produksi sejumlah tanaman pertanian, salah satunya kopi. Foto: ist
DAMPAK cuaca ekstrem pada tahun lalu berdampak pada penurunan produksi sejumlah tanaman pertanian, salah satunya kopi. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, BANGLI – Dampak cuaca ekstrem pada tahun lalu berdampak pada penurunan produksi sejumlah tanaman pertanian, salah satunya kopi. Sejumlah petani di wilayah Kecamatan Kintamani mengakui adanya penurunan produksi kopi.

Komang Mudarka, petani kopi asal Desa Satra, Rabu (15/4/2026) mengakui adanya penurunan hasil panen kopi di lahannya.  Dia menyebut penurunan tersebut mencapai sekitar 30%. “Kalau tanaman sedang berbunga biasanya membutuhkan sinar lebih, tapi kenyataannya hujan berkepanjangan sehingga banyak bunga gugur,” bebernya.

Bacaan Lainnya

Penurunan hasil panen ini, kata Mudarka, tidak merata di seluruh Kintamani. Beberapa wilayah seperti Belantih informasinya masih memiliki hasil panen relatif stabil. Begitu juga di kawasan Kintamani Selatan, sejumlah petani mengakui panen cukup bagus. “Harga kopi saat ini cukup bagus, tapi produksi di kebun saya malah turun,” keluhnya.

Disinggung harga kopi saat ini, lanjut dia, untuk kopi petik merah di awal panen mencapai Rp18 ribu. Bahkan sebelumnya sempat Rp20 ribu. “Harga kopi saat ini lebih mahal dibanding musim panen tahun sebelumnya. Tahun lalu harga kopi petik merah berkisar Rp12 ribu sampai Rp15 ribu per kg,” ucapnya menandaskan. gia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses