MATARAM – Pada saat pandemi Covid-19, sektor pertanian masih tumbuh positif, bahkan menjadi satu-satunya sektor penyelamat perekonomian nasional. Namun, hingga kini kesejahteraan petani di NTB justru masuk fase mengkhawatirkan. Sektor pertanian masih jadi penyumbang terbesar kemiskinan ekstrem di NTB, dengan sebanyak 284 ribu jiwa atau sekitar 6 persen dari jumlah penduduk.
Ketua DPC PDIP Kota Mataram, Made Slamet, mengaku prihatin Provinsi NTB yang didominasi pertanian dan kelautan, masyarakatnya masih hidup di bawah garis kemiskinan. Kehadiran sayap organisasi PDIP, Gerakan Nelayan Tani Indonesia (Ganti) Kota Mataram, diklaim jadi solusi menjawab keresahan petani dan nelayan.
“Ganti Mataram serius mengembalikan kejayaan pertanian dan nelayan di NTB, terutama di Kota Mataram, melalui gerakan dan program riil untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan,” kata Made usai rapat perdana Ganti Mataram di DPC PDIP Mataram, Minggu (11/12/2022).
Anggota DPRD NTB itu berujar, kepengurusan Ganti Mataram akan banyak diisi kalangan praktisi, akademisi hingga penggiat LSM (nelayan dan petani). Kepengurusan Ganti Mataram tinggal diusulkan ke DPP Ganti di bawah kepemimpinan Prof. Rokhmin Dahuri.
Ketuanya adalah Lalu Ahyar Supriyadi, yang biasa melakukan advokasi petani dan nelayan di NTB selama ini. “Lalu Ahyar akan dibantu para pakar pertanian dan nelayan dari kalangan akademisi Unram, serta mantan pejabat yang biasa mengurus pertanian dan kelautan,” sambung Made.
Lebih jauh diutarakan, Ganti lebih pada membantu pemerintah masyarakat di Provinsi NTB, terutama di Kota Mataram. Tujuannya untuk mewujudkan ketahanan atau kedaulatan pangan di seluruh komoditas pangan. “Kalau ada harga cabai mahal, pupuk langka hingga nelayan sulit melaut karena ombak besar di Mataram, Ganti akan hadir menjadi solusi mengatasi kesulitan itu,” janji Made.
Dia mengakui potensi di lautan di Kota Mataram, mulai dari Pantai Mapak di Kecamatan Sekarbela hingga Pantai Penghulu Agung di Kota Mataram, sangat besar. Sayang, hal itu belum tergarap optimal. Di sisi lain, permintaan pasar terhadap produk pertanian, kelautan, dan perikanan semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk.
Karena itu, PDIP ingin memberi kepada masyarakat supaya kedua sektor ini benar-benar menjadi sektor utama mendahului sektor unggulan, menjadi kompetitif. Hal itu tidak lepas dari Indonesia yang masuk menjadi anggota Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) secara aktif.
Made menegaskan tidak ingin Ganti hanya jadi organisasi papan nama. Agar bisa jadi pemenang di tanah sendiri, harus mulai berpikir soal daya saing. Paling mudah untuk tumbuh kembang atau dihasilkan oleh Indonesia adalah sektor yang berbasis pada sumber daya alam, seperti kehutanan, pertanian tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan. “Maka kita harus adakan hilirisasi produk, jangan seperti dulu,” ajaknya.
Selama ini, sambungnya, Provinsi NTB dan Kota Mataram hanya mengeluarkan produk bahan mentah seperti pertanian, perikanan dan kehutanan. Padahal jika diproses terlebih dahulu, produk tersebut bernilai tinggi dan mempunyai harga yang lebih mahal.
Di titik inilah Ganti berperan melaksanakan program-program yang langsung, baik, secara teknologi maupun manajemen untuk meningkatkan pendapatan petani dan nelayan.
“Kerjasama dengan perguruan tinggi dan pemerintah harus bisa kita maksimalkan untuk meningkatkan nilai tambah bagi petani dan nelayan. Termasuk untuk para istri mereka dalam upaya pemberdayaan ekonomi keluarga agar bisa lebih meningkat,” ucapnya menandaskan. rul
























