Zul-Rohmi Diminta Atensi Olahan Bawang Merah Bima

  • Whatsapp
ANGGOTA Komisi II DPRD NTB, Abdul Rauf. foto: rul

MATARAM – Bawang merah yang dihasilkan para petani di Kabupaten Bima dari budidaya yang dilakukan secara turun-temurun, memiliki prospek besar untuk pasar ekspor. Hanya, selama ini produksi bawang merah masih dikirim dan diperjual-belikan secara mentah. Padahal, jika dikelola dengan baik, maka akan bisa memberi nilai tambah.

“Ini yang kami minta agar program Industrialisasi yang dirintis Gubernur Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur Sitti Rohmi Djalilah (Zul-Rohmi) bisa masuk membina UKM di Bima, agar bisa mengelola produk bawang merah,” ujar anggota Komisi II DPRD NTB, Abdul Rauf, Kamis (23/9/2021).

Bacaan Lainnya

Menurut politisi Demokrat itu, produksi bawang merah bima yang dikirim mentah dan gelondongan, rentan dipermainkan para tengkulak, khususnya pemain besar. Padahal bawang merah bima merupakan komoditi nasional.

Akibatnya, bawang merah bima yang biasanya dikirim selalu keliling terlebih dahulu ke Pulau Jawa. “Nah, di Pulau Jawa itu, produksi bawang merah dilabeli bawang jawa. Di situ harganya menjadi naik, sedangkan petani kita yang terus merugi,” cetusnya.

Badan Karantina Pertanian mencatat ekspor komoditas bawang berasal dari petani di Pulau Sumbawa melalui pelabuhan Badas, Poto Tano, Bima, dan Sape tahun 2018 sebanyak 23,1 ribu ton. Kemudian tahun 2019 produksi sebanyak 24,1 ribu ton, dan tahun 2020 (hingga 26 Mei tahun 2020) sebanyak 1,3 ribu ton.

Baca juga :  Mulai Didistribusikan, Ini Jumlah Uang Saku Kontingen Indonesia di Olimpiade Tokyo

“Kami berharap di sisa dua tahun kepemimpinan Zul-Rohmi, pengelolaan bawang merah di Bima bisa memberikan nilai tambah. Misalnya, bawang merah bisa menjadi produk yang menguntungkan petani dan UKM di Kabupaten Bima,” tandas Abdul Rauf. rul

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.