Warga Diminta Tak Takut ke TPS, Lidartawan Ngotot Bali Bisa “Green Election”

  • Whatsapp
SUASANA di salah satu TPS di Kerobokan, Kuta Utara, Badung saat Pilkada Bali 2018 silam. Foto: gus hendra
SUASANA di salah satu TPS di Kerobokan, Kuta Utara, Badung saat Pilkada Bali 2018 silam. Foto: gus hendra

DENPASAR – Potensi ada masyarakat enggan datang ke TPS untuk mencoblos di tengah situasi pandemi Covid-19 ini, menjadi fokus jajaran penyelenggara Pilkada 2020. KPU menjamin para pemilih di TPS tidak perlu khawatir bersentuhan dengan orang lain, karena proses pemungutan suara dibuat sangat steril. “TPS itu aman, aman kok. Silakan masyarakat datang ramai-ramai ke TPS menyalurkan hak suara, untuk mendapat pemimpin yang mampu menyelesaikan masalah kita, termasuk Corona ini,” seru Ketua KPU Bali, I Dewa Agung Lidartawan, Selasa (23/6/2020).

Dia berkata garansi keamanan TPS itu bukan sekadar untuk ajakan belaka. Secara praktik, jelasnya, semua KPPS wajib mengenakan alat pelindung diri (APD) mulai masker, penyanitasi tangan, sarung tangan, dan pelindung muka. Untuk pemilih, sambungnya, juga disediakan sarung tangan sebelum mereka masuk ke bilik suara. Setelah menggunakan hak suara, mereka keluar dari TPS dan jarinya disemprot dengan tinta, tidak lagi mencelupkan tangan ke tinta seperti dulu.

Bacaan Lainnya

“Kemarin sempat ada kekhawatiran ada potensi virus menular lewat paku, nah memberi sarung tangan ini sebagai solusinya. Jadi, pakunya tetap satu, tapi kan tidak ada bersentuhan langsung karena sudah pakai sarung tangan sekali pakai,” urainya.

Baca juga :  Seluruh Banjar di Kelurahan Kesiman Gencarkan Penyemprotan Mandiri

Agar pilkada di tengah pandemi ini memiliki nilai khusus, Lidartawan berkata mengusulkan ke KPU RI untuk menjajal gagasan lamanya yakni agar pasangan calon (paslon) tidak lagi kampanye dengan baliho plastik. Dia ingin Pilkada 2020 menjadi catatan sejarah, selain karena diselenggarakan saat ada wabah global, juga kali pertama tanpa menghasilkan sampah plastik dari baliho.

Menurutnya, Ketua KPU RI, Arief Budiman, mengajak para komisioner mencatat sejarah dalam Pilkada 2020 ini. Selama ini ketika orang bicara pemilu terbaik di Indonesia, yang dibayangkan adalah pemilu 1955. “Makanya kami ingin Bali bisa menjadi daerah pertama yang green election (pemilu hijau), pemilu yang bersahabat dengan lingkungan. Saya yakin masyarakat sepakat dengan itu,” ulasnya optimis.

Disinggung bagaimana jika paslon masih ingin kampanye memakai baliho plastik, Lidartawan menjawab enteng bahwa itu berarti paslon tidak ada iktikad baik untuk mengurangi sampah plastik. Alasan dia menghapus baliho plastik, terangnya, juga karena fasilitas untuk menjual citra diri tersedia dalam bentuk lain. Misalnya videotron untuk yang di Denpasar, bisa juga televisi dan, yang paling murdah dan murah, media sosial. Di media semacam itu kampanye terjadi bisa secara interaktif, tidak sekadar dipajang dan membisu seperti baliho.

Jika boleh difasilitasi, dia ingin KPU memberi dana untuk para paslon membuat profil diri secara lengkap secara digital, untuk kemudian disebar ke masyarakat. Salah satu alasan masyarakat malas memilih di pilkada, serunya, karena masyarakat tidak mengenal siapa calonnya. Dengan ada profil diri digital, itu bisa disebar lewat grup media sosial, sehingga tidak ada alasan warga tidak tahu calonnya dan jadi justifikasi tidak ke TPS. “Ini  juga memudahkan Bawaslu dan PPS, karena tidak perlu capek ngecek baliho yang dipasang,” ungkapnya kalem.

Baca juga :  Sepuluh Seniman Muda Luncurkan Buku "Seni Mau Dibawa ke Mana"

Lidartawan tidak memungkiri selalu ada kemungkinan pendukung paslon itu nekat memasang baliho. Justru dia menilai kapabilitas calon pemimpin bisa dilihat dari bagaimana dia mengendalikan anak buahnya. “Masa mau jadi pemimpin menertibkan anak buah saja tidak mampu? Mestinya tim kampanye bisa mempengaruhi calon pemilih dengan penjabaran program kerja ke publik, bukan hanya masang baliho saja,” sindirnya. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.