Wagub Cok Ace Beberkan Potensi Wisata Kesehatan Pascapandemi

WAGUB Cok Ace (kanan) didampingi Kabid Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Ida Ayu Indah Yustikarini (kiri). Foto: ist

DENPASAR – Pemerintah Provinsi Bali telah memulai rencana “Transformasi Ekonomi Kerthi Bali”, yakni rencana restrukturisasi ekonomi yang dilakukan dengan memperkuat pertanian, perikanan, ekonomi kreatif, dan sektor lainnya. Ada juga kebutuhan untuk menggeser fokus dari pariwisata massal ke pariwisata berkelanjutan. Contoh yang bisa dicoba adalah wisata kesehatan.

Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) saat focus group discussion (FGD) terkait “Pariwisata Kesehatan atau Health Tourism Discussion: Membangun Pariwisata Berkelanjutan di Bali/Establishing Sustainable Tourism in Bali”, yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Bali melalui zoom meeting, Selasa (18/10/2022).

Read More

Menurutnya, tantangan di era pascapandemi adalah mendapatkan kembali kepercayaan wisatawan. “Bagaimana kita dapat memastikan bahwa perjalanan ke Bali benar-benar aman dan semua protokol kesehatan dilaksanakan secara menyeluruh. Ini mungkin terdengar seperti tantangan besar yang harus diatasi oleh orang Bali, tetapi juga dapat menjadi kesempatan bagus,” ungkap Cok Ace.

Dikatakan, potensi wisata kesehatan sangat penting. Bali bisa memadukan unsur kesehatan dan rekreasi untuk menarik pengunjung yang ingin memulihkan kesehatan dan meremajakan diri di Bali. Cok Ace yakin bahwa Bali dapat menawarkan layanan kesehatan yang baik. Karena memiliki sumber daya yang baik di bidang kesehatan.

Kata dia, di Bali banyak SDM hebat, hingga rumah sakit berstandar internasional. Selain itu, lanjut dia, juga memiliki udara bersih, air, dan pemandangan alam yang indah yang bisa membantu orang untuk merasa segar kembali dari stres dan kecemasan. “Semua potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan Bali sebagai tujuan wisata kesehatan terkemuka,” yakinnya.

Dijelaskan, wisata kesehatan juga bisa menjadi nuansa baru bagi Indonesia. Mengingat, lanjut dia, setiap tahun ada sekitar 2 juta orang Indonesia yang berkunjung ke negara lain untuk berobat.

“Ini menyumbang hampir Rp97 triliun. Sementara itu, data menunjukkan bahwa wisata kesehatan mungkin memiliki potensi pendapatan US$ 179,6 juta atau Rp2,58 triliun. Selain itu, pariwisata baru ini tumbuh pesat hingga 10,8 persen per tahun menurut Data Kesehatan Global dan dapat meningkat hingga 16 persen pada pertumbuhan tahun 2025,” bebernya.

Cok Ace menambahkan, Bali terus melakukan pembenahan dan persiapan yang lebih baik seperti pelayanan medis, kesehatan, dan herbal.

Saat ini fasilitas kesehatan yang sedang disiapkan di Bali yakni Pembangunan Rumah Sakit (RS) Bali International Hospital di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan di Sanur, Denpasar yang dicanangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) Desember tahun lalu bisa menjadi langkah awal yang akan mengantarkan Indonesia sebagai jawara wisata kesehatan di kawasan ASEAN.

Selain itu, di Rumah Sakit Umum Pemerintah Prof. Ngoerah sedang dibangun Gedung Aesthetic Center yang merupakan satu diantara beberapa rencana pembangunan untuk mendukung transformasi sistem kesehatan nasional serta mengembangkan pelayanan wisata medis kelas dunia. Sehingga nantinya Bali tidak hanya dikenal karena pariwisata tetapi juga karena keunggulan kesehatan.

Dari segi alat kesehatan, penguatan dilakukan dengan ditempatkannya satu alat genome sequencing di Universitas Udayana. Dengan keberadaan alat tersebut, diharapkan proses pemeriksaan genetik suatu organisme jadi lebih cepat, karena sampel tidak perlu lagi dikirim ke laboratorium di luar Bali. “Semua upaya ini dilakukan dengan harapan dapat menciptakan peluang yang lebih baik bagi Bali di era pascapandemi,” pungkasnya. alt

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.