VW Kodok dan Pergulatan Jaya Negara Kendalikan Banteng di Denpasar

  • Whatsapp
IGN Jaya Negara (kiri) ketika hendak masuk mobil bersama Agus Arya Wibawa setelah mendaftar di KPU Denpasar, Jumat (4/9/2020). Foto: gus hendra
IGN Jaya Negara (kiri) ketika hendak masuk mobil bersama Agus Arya Wibawa setelah mendaftar di KPU Denpasar, Jumat (4/9/2020). Foto: gus hendra

Presiden pertama RI, Soekarno, punya kebiasaan bertanya apakah pengawal dan, terutama, sopir sudah makan sebelum mobil berangkat. Jika belum, dia akan menunda berangkat dan minta sopir makan dulu. Alasannya sederhana: keselamatan penumpang di jalan, bahkan seorang presiden, bergantung sopir.

MATAHARI bersinar terik sekitar pukul 12.15 Wita, Jumat (4/9/2020). Usai menjura untuk hormat dan mengucap terima kasih kepada para pendukungnya di depan kantor KPU Denpasar, IGN Jaya Negara ditemani Agus Arya Wibawa berjalan menuju mobil VW kodok putih DK 3 JN yang parkir di pinggir jalan. Jaya Negara minta sopir VW keluar, dan dia masuk mobil untuk duduk di kursi sopir. Arya Wibawa masuk lewat pintu kiri dan duduk, mobil pun pelan-pelan melaju meninggalkan pendukung.

Tidak ada hal istimewa sesungguhnya melihat pemandangan itu, karena bisa jadi Sekretaris DPD PDIP Bali itu biasa nyetir sendiri. Tapi ketika dilakukan saat tahapan Pilkada Denpasar berjalan, tentu ceritanya jadi berbeda dimaknai orang lain. Disengaja atau tidak, pria yang akrab disapa Turah itu menghadirkan impresi dan pesan simbolik untuk sekutu dan seterunya di Pilkada Denpasar.

Baca juga :  Update Covid-19 di Denpasar: 16 Orang Sembuh, Positif Bertambah 6 Orang

Menurut Aniela Jaffe, analisis psikologi pendamping Carl Gustav Jung, apa yang dilakukan manusia modern memiliki signifikansi psikologis yang bermakna dan menggerakkan pendukungnya sesuai yang dituju. Dan, mengutip pendapat Susanna Langer, filsuf Amerika Serikat, prestasi manusia bergantung pada penggunaan simbol-simbol.

Setir merupakan alat yang berfungsi untuk mengendalikan ke mana arah mobil. Setir juga hanya satu, tidak ada satu mobil dua setir. Di belakang kemudi itulah sosok yang yang berperan membawa penumpangnya. Memegang setir dapat dimaknai, secara simbolik, Turah sedang mengkomunikasikan ke para “banteng” di Denpasar bahwa dialah, dan bukan yang lain, sosok yang saat ini pandangannya layak dituruti. Pesan ini penting, karena ada sosok tertentu yang disebut-sebut ngambul (ngambek) dengan rekomendasi pilihan Megawati.

Yang perlu diapresiasi, karena hanya berdua, gestur Arya Wibawa saat dalam mobil juga menunjukkan dia “mempercayakan” ke mana mobil melaju di tangan Turah. Dalam lomba balapan, posisi Arya Wibawa sebentuk sebangun dengan navigator. Itu memperlihatkan dia dapat memerankan seorang calon wakil yang baik, yakni menjadi pendamping, bukan pesaing.

Baca juga :  Setelah Gantung Sepatu, Pemain Senior Bali United Ini Ingin Jadi Pelatih Timnas

Secara semiosis, menjadi sopir mobil dapat dibaca sebagai pesan bahwa situasi internal sekutu sudah dikendalikan. Apapun dinamika di dalam partai yang terjadi sebelum Turah menjadi sopir, termasuk memperoleh navigator, sudah selesai ketika kendaraan dijalankan menuju kontestasi. Dipilih sebagai sopir juga sebagai bentuk perjuangan simbolik Turah, entah dia sadari atau tidak.

Peristiwa lain yang sayang dilewatkan adalah kehadiran penglingsir Puri Satria, AA Oka Ratmadi atau Cok Rat, saat pendaftaran Jaya-Wibawa. Meski tidak memegang jabatan publik, nyaris semua elite politik di Denpasar mengenal Bupati Badung periode 2000-2005 itu. Modal simbolik sebagai tokoh PDI sampai menjadi PDIP menjadi pembedanya.

Kemunculan Cok Rat lebih terlihat sebagai strategi untuk dapat mengunci suara PDIP di Denpasar, agar satu komando mendukung Jaya-Wibawa. Sebab, publik tahu Cok Rat memihak IB Rai Dharmawijaya Mantra, yang menjadi lawan I Wayan Koster dari PDIP, saat Pilgub 2018. Restu Cok Rat itu, langsung atau tidak langsung, berbuah kemenangan telak Rai Mantra atas Koster di Denpasar. Sebagai tambahan, Cok Rat juga mengantar Turah bertemu Rai Mantra di kediamannya. Pesannya sangat mudah dimamah: Cok Rat sepenuhnya mengampu kedua sosok tersebut.

Baca juga :  KPU Sumbang 35 Kantong Darah ke PMI Bali

Karena berutang budi saat Pilgub, inilah saat Rai Mantra membayar tagihannya. Caranya, ya, dengan ikut berjuang menjadikan Turah sebagai suksesor di Pemkot Denpasar. Pertemuan itu juga sebagai jawaban atas pertanyaan “gatal” terkait akan disalurkan ke mana tingginya popularitas Selly Mantra, istri Rai Mantra, saat seleksi kandidasi di Golkar Denpasar itu? Jika dulu ada istilah “Roma locuta causa finita”, di Denpasar berubah jadi “Ratmadi locuta causa finita”.

Khalayak, terutama pendukung, niscaya berharap Turah benar mampu menjadi sopir yang berguna bagi Kota Denpasar. Situasi di mana masyarakat Denpasar dapat menyatakan diri “tidak salah memilih Turah” sebagai kepala daerah. Dengan begitu, pesan moral kisah Soekarno sebagai leluhur PDIP dengan ideologi marhaenismenya, yang dinukil dari buku “Ketawa Bareng Bung Besar” dan dituangkan dalam mukadimah tulisan ini, dapat diwujudkan duet Jaya-Wibawa. Gus Hendra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.