POSMERDEKA.COM, BANGLI – Walaupun Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) belum ada terjangkit, tapi mengantisipasi agar tidak terjadi maka peternak diminta agar memperhatikan kebersihan kandang. Alokasi vaksin untuk ternak, khususnya sapi, di Bangli dari pusat sangat sedikit. Tahun 2025, Bangli hanya mendapat jatah 24.500 dosis, sedangkan populasi ternak, terutama sapi, mencapai 53.300 ekor. Kondisi ini mengakibatkan vaksinasi terpaksa dilakukan secara selektif.
Kepada Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Bangli, I Wayan Sarma, Selasa (25/11/2025) menyampaikan, kasus PMK di Kabupaten Bangli sampai saat ini mulai mereda. Meski demikian, Dinas PKP tetap berupaya melakukan pencegahan meski vaksin tersedia terbatas, hanya kebagian 24.500 dosis. Untuk selebihnya masyarakat diimbau melakukan vaksinasi mandiri, yakni dengan biaya sendiri, oleh petani atau peternak dengan menghubungi dokter hewan praktik.
“Untuk ternak babi, vaksinasi mandiri sudah mulai diterapkan saat ini,” tegasnya.
Lebih lanjut disampaikan, karena jumlahnya terbatas di bawah populasi, tentu tidak bisa menutupi seluruh sapi yang ada. Dengan jatah vaksin tersebut, populasi ternak yang terjangkau baru sekitar 50%, masih ada sekitar 50% yang masih belum tertutupi. Untuk menyiasati itu, instansinya menyasar terlebih dahulu wilayah atau daerah yang padat populasinya. Tujuannya, kata Sarma, untuk mempercepat upaya penanggulangan terhadap indikasi PMK, seperti beberapa wilayah yang banyak populasi sapi, terutama di wilayah Kecamatan Kintamani.
”Jadi, daerah-daerah yang padat populasi itu disasar duluan,” terangnya.
Selain itu, imbuhnya, prioritas berikutnya adalah sesuai laporan masyarakat tentang adanya gejala PMK pada ternak. Dia berharap vaksinasi mandiri oleh peternak berhubung keterbatasan anggaran pemerintah pusat. ”Masa harga sapi sampai puluhan juta, hanya untuk membeli vaksin hanya Rp50 ribu tidak bisa?” tanyanya.
Lebih jauh diutarakan, proses vaksinasi di lapangan masih berlangsung dan patut disyukuri indikasi PMK juga telah mereda. Walaupun ada juga laporan PMK, tapi setelah diperiksa secara laboratoris, tidak menunjukkan PMK. Apalagi sesudahnya kondisi ternak pulih kembali. ”Jika ada gejala seperti PMK, cukup bisa pakai obat tradisional,” ucapnya.
Sekali lagi dia mengimbau kepada para peternak untuk waspada, mengingat peternak sapi dan juga babi merupakan salah satu usaha yang banyak digeluti masyarakat sebagai modal usaha. gia kampungbet kampungbet kampungbet























