POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi peserta didik terus dilakukan oleh berbagai pihak. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan Program Pascasarjana Program Studi Magister Dharma Acarya Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar di SD Negeri 8 Dauh Puri, Selasa (2/6/2026).
Mengusung tema “Membangun Budaya Sekolah Ramah Anak Melalui Implementasi Nilai-Nilai Agama Hindu dalam Pencegahan Bullying”, kegiatan ini menjadi wujud nyata kolaborasi antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan dalam menjawab tantangan dunia pendidikan saat ini, khususnya terkait maraknya kasus perundungan yang terjadi di lingkungan sekolah.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 WITA tersebut diawali dengan registrasi peserta, pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, doa bersama, sambutan para narasumber, penyerahan plakat kemitraan, penyampaian materi edukatif, hingga pemilihan Duta Anak Anti Bullying dan deklarasi bersama anti perundungan. Seluruh rangkaian acara berlangsung dengan lancar, kondusif, interaktif, dan penuh antusiasme dari peserta didik maupun guru.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Denpasar, I Nyoman Suriawan, S.T., Kepala SD Negeri 8 Dauh Puri Agus Eka Sanjaya, S.Pd.SD., Ketua Pengabdian kepada Masyarakat Prof. Dr. Dra. Ni Ketut Srie Kusuma Wardani, M.Pd., dosen Program Pascasarjana UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, mahasiswa, guru, serta seluruh peserta didik SD Negeri 8 Dauh Puri.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya perhatian masyarakat terhadap berbagai kasus perundungan yang masih terjadi di lingkungan pendidikan. Perundungan tidak hanya berdampak pada prestasi belajar peserta didik, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental, rasa percaya diri, perkembangan sosial, bahkan masa depan anak. Bentuknya pun beragam, mulai dari ejekan, pengucilan, diskriminasi, intimidasi verbal, hingga kekerasan fisik dan perundungan melalui media digital.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah untuk menerbitkan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, yang menegaskan bahwa sekolah harus menjadi ruang yang menjamin keamanan fisik, psikologis, sosial, spiritual, dan digital bagi seluruh warga sekolah. Regulasi tersebut menempatkan pencegahan kekerasan, diskriminasi, intoleransi, serta perundungan sebagai bagian penting dalam pembangunan budaya sekolah yang sehat dan berkelanjutan.
Sebagai kota pendidikan dan pusat aktivitas masyarakat di Bali, Kota Denpasar juga menghadapi tantangan yang sama. Dinamika pergaulan peserta didik, perkembangan teknologi informasi, serta semakin tingginya intensitas interaksi di media sosial menjadikan upaya pencegahan perundungan sebagai kebutuhan yang mendesak. Oleh karena itu, penguatan karakter sejak usia dini melalui pendidikan berbasis nilai-nilai agama dan budaya dipandang sebagai salah satu solusi strategis untuk membangun generasi yang berakhlak mulia dan menghargai sesama.
Dalam sambutannya, Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Kota Denpasar, I Nyoman Suriawan, S.T., mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang dinilai sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini. “Sekolah harus menjadi tempat yang membuat anak merasa aman, dihargai, dan bahagia. Pencegahan perundungan membutuhkan kerja sama semua pihak, mulai dari sekolah, keluarga, masyarakat, hingga perguruan tinggi. Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar bersama SD Negeri 8 Dauh Puri karena memberikan penguatan karakter yang sangat dibutuhkan oleh peserta didik,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SD Negeri 8 Dauh Puri, Agus Eka Sanjaya, S.Pd.SD., menyampaikan bahwa sekolah memiliki komitmen kuat untuk menghadirkan lingkungan belajar yang berpihak kepada anak. “Setiap anak memiliki hak untuk belajar dalam suasana yang aman dan menyenangkan. Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan nilai-nilai empati, toleransi, dan kepedulian sejak dini. Harapan kami, tidak ada lagi ruang bagi perilaku perundungan, diskriminasi, maupun intoleransi di lingkungan sekolah,” ungkapnya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Pengabdian kepada Masyarakat, Prof. Dr. Dra. Ni Ketut Srie Kusuma Wardani, M.Pd., menjelaskan bahwa nilai-nilai agama Hindu memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik. “Ajaran Hindu mengandung banyak nilai universal yang relevan untuk mencegah perundungan. Melalui konsep Tat Twam Asi, anak-anak diajak memahami bahwa orang lain adalah bagian dari dirinya sendiri. Ketika nilai ini tumbuh, maka sikap saling menghormati, menyayangi, dan membantu akan menjadi budaya yang hidup dalam keseharian mereka,” jelasnya.
Selama kegiatan berlangsung, peserta mendapatkan berbagai materi yang disampaikan oleh tim dosen dan mahasiswa UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Materi pertama membahas tentang pengertian bullying dan dampaknya terhadap perkembangan anak. Materi kedua mengulas implementasi nilai-nilai agama Hindu dalam membangun karakter peserta didik. Sementara materi ketiga menekankan strategi membangun budaya sekolah ramah anak yang bebas dari praktik perundungan.
Salah satu agenda yang paling menarik perhatian peserta adalah Pemilihan Duta Anak Anti Bullying SD Negeri 8 Dauh Puri Tahun 2026. Dua peserta didik terpilih sebagai duta yang akan menjadi pelopor dan teladan dalam mengampanyekan budaya saling menghormati, peduli, dan menolak segala bentuk perundungan di lingkungan sekolah.
Selain itu, seluruh peserta didik mengikuti Deklarasi Anak Anti Bullying, sebagai bentuk komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan menghargai keberagaman. Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini, SD Negeri 8 Dauh Puri akan membentuk Santi Budi Dedari (Satgas Anti Bully, Diskriminasi, dan Intoleransi di SD Negeri 8 Dauh Puri). Satgas tersebut akan menjadi wadah edukasi, pencegahan, pendampingan, serta penguatan budaya positif di lingkungan sekolah. Keberadaan satgas diharapkan mampu menjadi sistem perlindungan yang melibatkan guru, peserta didik, orang tua, dan seluruh warga sekolah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan ramah anak.
Melalui kolaborasi ini, UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dan SD Negeri 8 Dauh Puri menunjukkan komitmen bersama dalam mendukung implementasi Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026. Lebih dari sekadar kegiatan sosialisasi, program ini menjadi langkah nyata membangun budaya sekolah yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan, karakter luhur, dan ajaran agama Hindu demi terwujudnya generasi yang cerdas, berkarakter, serta bebas dari perundungan.
Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap masa depan anak-anak Indonesia, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diharapkan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk terus memperkuat budaya sekolah aman, nyaman, inklusif, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik. tra
























