Tiga Tahun Pemerintahan Zul-Rohmi, Publik Tunggu Kiprah Nyata, Bukan Saling Bela Program

  • Whatsapp
PRESIDEN Joko Widodo saat melantik Gubernur Zulkieflimansyah dan Wagub Sitti Rohmi Djalilah di Istana Negara, beberapa waktu lalu. Foto: ist
PRESIDEN Joko Widodo saat melantik Gubernur Zulkieflimansyah dan Wagub Sitti Rohmi Djalilah di Istana Negara, beberapa waktu lalu. foto: ist

MATARAM – Bulan September 2021 ini tepat tiga tahun umur kepemimpinan Gubernur Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur Sitti Rohmi Djalilah. Duet yang sering dipanggil Zul-Rohmi ini memimpin NTB dalam kondisi tidak biasa. Pada tahun pertama dihadapkan pemulihan usai gempa bumi, dan tahun kedua menyambung tahun ketiga menghadapi gelombang Covid-19.

Direktur Lembaga Kajian Sosial dan Politik M-16, Bambang Mei Firnawanto, mengatakan, selama tiga tahun kepemimpinannya, Zul-Rohmi mencatat sejumlah pencapaian. Di program strategis ada pariwisata andalan dan strategis, industrialisasi, pengembangan daya saing SDM, NTB ramah investasi, pembangunan konektivitas dan aksesibilitas wilayah NTB, dan NTB bersih dan berkelanjutan. “Masa kepemimpinan tersisa dua tahun, masih ada waktu menuntaskannya program strategis dan unggulan yang belum dilakukan agar bisa pembenahan,” ujar Bambang, Rabu (1/9/2021).

Bacaan Lainnya

Menurut dia, paket tersebut menghadapi gelombang berat saat Covid-19. Program pasti tidak sanggup berjalan optimal akibat refocusing anggaran. Hanya, kondisi itu tidak serta-merta dapat dijadikan alasan. Sebab, publik tentu menanti segala janji politik dituntaskan.

Zul-Rohmi diibaratkan kapten sebuah tim olahraga, sedangkan kepala dinas maupun staf khusus adalah pemain pendukung. Tugasnya menyuport langkah yang dilakukan sang Kapten. “Menjalankan program, menyiapkan data, dan menginformasikan kepada publik, sehingga gol yang diinginkan dapat tercapai,” ucapnya beranalogi.

Baca juga :  Kasper Dolberg ''Star of the Match'', Gareth Bale Beri Pujian

Bambang mendaku adanya pro-kontra terhadap sebuah kebijakan pemerintah itu hal yang lazim. Sayangnya, lini kedua Gubernur dan Wakil Gubernur dinilai kedodoran. Alih-alih menopang kerja-kerja positif, lingkaran internal dari kalangan dinas maupun eksternal para staf khusus tampak kurang begitu sigap. Mereka dituding gelagapan merespons kritik publik, dan cenderung menjawab ala kadarnya; yang penting kelihatan membela bos. 

“Contohnya dapat dilihat ketika begitu banyak kritik terhadap beasiswa, soal industrialisasi, isu sumir mengenai zero waste. Yang terbaru kritik terhadap ada masyarakat terisolir dalam lingkaran Sirkuit ITDC Mandalika, banyak lagi,” serunya.

Dari pantauannya di sejumlah media massa, Bambang menyebut lini kedua Pemprov terjebak pada dialektika membela membabibuta, kurang dingin menyikapi sejumlah kritik. Respons yang diberikan jauh dari substansi utama, dan kemudian memunculkan istilah gaya para buzzer (pendengung). Mereka beringas tanpa kedalaman analisa dan data. Jika ini terus dibiarkan, ulasnya, justru mereduksi kepemimpinan Zul-Rohmi saat ini, plus melemahkan segala kerja yang berjalan tiga tahun sebelumnya.

Gaya komunikasi terbuka Gubernur di media sosial juga dia cermati, terutama ketika menghadirkan perdebatan. Dia mengklaim sebagian pihak menilai Gubernur Zulkieflimansyah terlalu berlebihan di media sosialnya, termasuk keaktifan menjawab segala macam kontra. 

“Di era serba-digital, justru gaya seperti ini perlu diikuti jajaran kepala dinas maupun staf khususnya. Terbuka kepada masyarakat, tidak antikritik, menghadirkan respons menyejukkan hati,” tuturnya. 

Baca juga :  Bupati Bangli Imbau Warga Tidak Mudik Lebaran

Pencapaian selama ini, tegasnya, tidak cukup disampaikan dalam bentuk puja-puji dan bergaya pandu sorak. “Masih ada waktu, lingkaran Zul-Rohmi harus menjadi penopang solid menuju NTB Gemilang,” pesannya mengingatkan. rul

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.