POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Bawaslu Bali memperkenalkan fungsi dan peran pengawasan pemilu kepada puluhan pelajar melalui program Taksu Volume II di SMA (SLUA) Saraswati 1 Denpasar, Senin (3/8/2026). Program bertajuk “Transformasi Anak Muda Kawal Demokrasi dan Pemilu” ini digelar, untuk membangun pemahaman bahwa demokrasi tidak hanya bergantung pada tingkat partisipasi di TPS, melainkan pada hadirnya pengawas partisipatif sejak awal tahapan. Kegiatan ini difokuskan guna mencetak generasi muda yang kritis dan berintegritas menghadapi pemilu mendatang.
Kordiv Pencegahan, Parmas, dan Humas Bawaslu Bali, Ketut Ariyani, menjelaskan, Bawaslu memiliki mandat luas yang tidak sekadar menerima laporan pelanggaran. Bawaslu bertugas menjalankan fungsi pencegahan, mengawasi seluruh tahapan, menangani dugaan pelanggaran, hingga menyelesaikan sengketa proses pemilu. “Kami ingin generasi muda memahami bahwa demokrasi bukan hanya soal memilih pemimpin. Ada proses panjang yang harus dijaga bersama agar setiap tahapan berjalan sesuai aturan,” sebutnya.
Ariyani menekankan pengawasan partisipatif merupakan bentuk kolaborasi nyata antara Bawaslu dan masyarakat. Dia mengajak para pelajar mulai mengenali hak serta kewajiban sebagai warga negara, termasuk membentengi diri dari penyebaran hoaks dan politik uang.
“Gunakan hak pilih dengan penuh tanggung jawab. Jangan pernah menjadikan uang atau pemberian sebagai dasar menentukan pilihan, karena demokrasi yang berkualitas lahir dari pemilih yang bebas dan berintegritas,” pesannya mengingatkan.
Sementara itu, Kepala SLUA Saraswati 1 Denpasar, Ni Nyoman Janiartini, mengapresiasi langkah Bawaslu Bali yang memberi pendidikan politik langsung kepada para siswanya. Janiartini menilai pemahaman demokrasi perlu ditanamkan sejak dini, agar pelajar memiliki bekal kuat saat memenuhi syarat sebagai pemilih kelak.
“Kami berharap kolaborasi seperti ini dapat terus berlanjut. Pendidikan demokrasi menjadi bekal penting bagi peserta didik, agar mereka tidak hanya memahami hak pilihnya, tetapi juga mengerti pentingnya menjaga kualitas demokrasi,” paparnya.
Salah seorang siswa peserta sosialisasi mengaku mendapat perspektif baru mengenai pemilu dari kegiatan tersebut. Dia yang semula menganggap pemilu sebatas pencoblosan suara, kini menyadari krusialnya fungsi pengawasan dalam mengawal integritas demokrasi. Melalui program Taksu, Bawaslu Bali juga menarget keterlibatan aktif generasi muda dalam memanfaatkan ruang digital untuk menyebarkan narasi positif kepemiluan. hen























