Tiga Desa di Bangli Siap Isoter Berbasis Desa Adat

  • Whatsapp
BUPATI Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta, menyerahkan paket sembako diterima oleh Bendesa Adat Tamanbali. Foto: ist
BUPATI Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta, menyerahkan paket sembako diterima oleh Bendesa Adat Tamanbali. Foto: ist

BANGLI – Sejumlah desa di Bangli mulai menyiapkan tempat Isolasi Terpusat (Isoter) berbasis desa adat untuk menindaklanjuti Surat Edaran (SE) Bupati Bangli tentang Isoter Orang Tanpa Gejala (OTG) Terkonfirmasi Covid-19 di Desa. Hanya, sesuai catatan Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Bangli per Minggu (15/8/2021), baru tiga desa dipastikan menyiapkan Isoter.

Desa itu yakni Desa Tamanbali, Desa Pengelumbaran, dan Desa Suter. Sementara terkait peningkatan kasus, per Sabtu (14/8/2021) terjadi lonjakan kasus mencapai 102 dalam sehari, dan ini rekor tertinggi selama Covid-19 di Bangli.

Bacaan Lainnya

Humas GTPP Covid-19 Kabupaten Bangli, I Wayan Dirgayusa, Minggu (15/8/2021) menyebut desa-desa di Bangli sepakat dan kompak menerapkan Isoter berbasis desa adat. Dari desa sama sekali tidak ada keluhan terkait pembuatan Isoter, dan semua menyatakan siap sesuai hasil konsolidasi dengan desa adat beberapa waktu lalu.

“Hanya saja, kami memulainya agak terlambat. Baru kemarin (Sabtu) kami mulai penataannya. Pencatatannya saja yang belum, karena aplikasinya baru selesai. Sekarang masih dilakukan input data,” ungkapnya.

Isoter Desa Tamanbali dan Desa Pengelumbaran, jelasnya, saat ini sudah terisi. Sementara untuk Isoter di Desa Suter saat ini juga sudah selesai, tapi masih belum berisi.

Baca juga :  Kapolresta Denpasar Kecewa dengan Aksi Pendukung Jerinx

Kebijakan Isoter berbasis desa adat dilakukan, urainya, karena di Bangli tidak mempunyai hotel dengan kapasitas kamar yang banyak. Selain itu, kalau dilihat dari permukiman warga, banyak bangunan rumah yang terpisah-pisah. Misalnya dalam satu pekarangan bisa ada empat sampai lima bangunan, sehingga salah satunya bisa digunakan. Jika dipaksakan menggunakan hotel dinilai akan terlalu banyak, dan banyak tenaga yang juga akan dibutuhkan.

Disinggung boleh atau tidak menerapkan Isoter berbasis desa adat, dia mengaku bicara ketentuan sangat susah. Siapa yang berhak membolehkan, dan siapa yang tidak. “Karena pada dasarnya, situasi di lapangan kita yang terbaik untuk Bangli ya itu. Isoter berbasis desa adat ini dipertanggungjawabkan juga oleh para nakes lho. Di rumah-rumah yang dijadikan Isoter ada beberapa nakes yang bertanggung jawab,” tegasnya.

Dia mendaku keterlibatan desa adat dan desa dinas justru mempermudah pengawasan pasien. Prinsip Bupati Bangli, semua bersama-sama dan bergotong royong menyelesaikan masalah bersama. Justru dengan cara ini, pengawasan bisa lebih ketat dilakukan. Sebab, jika ada yang menjalani Isoter melakukan pelanggaran, akan diketahui langsung tetangganya dan masyarakat setempat.

Karena itu, dia minta masyarakat luas yang melihat ada warga yang isoter melanggar, untuk tak segan-segan melapor ke Satgas Desa atau langsung Satgas Kabupaten agar bisa dijemput paksa dan dipindahkan ke Isoter Kabupaten. “Kalau memang ada ditemukan melanggar, pasti kami angkut segera tanpa ampun lagi,” janjinya.

Baca juga :  SMKN 5 Denpasar Dipercaya Pusat Jadi ‘’Center of Excellence’’, Gelar ‘’Job Matching’’ Pertemukan Tamatan SMK dengan Iduka

Untuk di kelurahan, lanjutnya, isoter didukung Isoter RSJP Bali. Sebab, kelurahan tidak punya APBDDes. Bahkan di desa Pengelumbaran sampai membuka dapur umum juga. Sampai Minggu (15/8/2021) jumlah Isoter berbasis desa adat bertambah menjadi 18,” ungkapnya. gia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.