Siapa Bilang Serakah yang Wajar Itu Tidak Baik?

  • Whatsapp

Oleh: Mr. Joger

(Sebuah kisah 99% nyata)

Bacaan Lainnya

DENGAN sangat marah seorang peserta seminar (seorang Doktor Ekonomi) protes keras ketika penulis secara tenang, lantang, dan jelas menyatakan bahwa serakah yang wajar itu baik. “Hei Pak Joger, Anda jangan main-main, ya! Anda jangan seenaknya saja bicara! Selama ini Anda selalu mengatakan serakah itu tidak baik, itu kami setuju, tapi sekarang, kok tiba-tiba saja Anda mengatakan bahwa serakah itu baik?”

“Maaf Pak Doktor, saya kemari bukanlah dalam rangka main-main, tapi karena diundang untuk menyampaikan penyesatan ke jalan yang benar versi saya. Dulu saya memang selalu mengatakan bahwa serakah itu tidak baik, itu adalah karena dulu saya belum benar-benar sadar dan paham bahwa diri saya ini sebenarnya adalah orang yang serakah, yang selalu ingin lebih baik, lebih jujur, lebih pintar, lebih rajin, lebih makmur, lebih sehat, lebih sejahtera, maupun lebih bahagia. Nah, menurut hemat saya yang belum dan bahkan tidak akan pernah benar-benar secara sukarela bersedia untuk bersikap terlalu hemat maupun terlalu tidak hemat ini, saya ini sebenarnya orang yang sangat serakah dalam memenuhi undangan panitia seminar ini, karena kalau tidak salah ini, adalah undangan memberi seminar keempat yang saya penuhi atas undangan panitia, padahal saya ini, kan bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, sedangkan bapak-bapak yang hadir di seminar ini, kan orang-orang hebat bergelar sarjana dan tidak sedikit juga yang bergelar Doktor seperti Bapak. Lain bulu, lain karang, lain dulu, lain pula sekarang, Pak!”

Tampaknya tanggapan saya tadi tidak meredakan kemarahan Pak Doktor kita itu, lalu beliaupun bersabda, “Apa penjelasan Anda dengan mengatakan bahwa serakah itu baik!? Anda jangan seenaknya bicara! Kami ini orang-orang serius!” Lalu penulispun sambil tetap tenang, cepat-cepat bertanya balik, “Maaf Pak Doktor, apakah Bapak punya tabungan?”, “Apa-apaan ini, Anda ingin mempermainkan kami, Ya!? Untuk apa Anda tanya soal punya tabungan? Ayo kita bubarkan saja seminar ngawur ini!” jawab Pak Doktor sambil berdiri dan marah.

“Maaf, Pak Doktor, saya juga punya tabungan, dan ketika tabungan saya sudah menumpuk, saya pun menyimpannya dalam bentuk deposito di bank yang lebih bonafide dengan bunga yang lebih besar, bukan di bank yang tidak jelas reputasinya dengan bunga yang lebih kecil. Nah, itu berarti saya adalah orang yang serakah. Dan menurut pendapat saya, mendepositokan uang saya untuk mendapatkan bunga yang lebih besar daripada ketika saya menyimpannya dalam bentuk tabungan biasa, dan itulah yang saya maksud dengan keserakahan yang wajar!”, jawab penulis mantap.

Baca juga :  AP I Bakal Wujudkan Bandara Ngurah Rai sebagai Bandara Ramah Lingkungan

Lalu atas izin Tuhan Yang Maha Esa, Mahabaik, dan Mahapengizin, dan juga atas kesabaran sebagian besar dari peserta “Penyesatan ke jalan yang benar versi Joger” di tahun 2000 itu, penulis pun berhasil meyakinkan Pak Doktor yang baik itu, bahwa keserakahan, selama tidak terlalu serakah dan juga tidak sampai terlalu tidak serakah, adalah sifat dan sikap yang baik dan juga bisa sangat amat bermanfaat bagi kita (semua umat manusia biasa) dalam menjalankan berbagai macam kegiatan kehidupan positif (positive vita activa) sehari-hari kita bersama, sejak mulai dari bernapas teratur, berpikir positif, khusyuk berdoa, berdialog dengan sesama, berdialog dengan alam, berdialog dengan diri kita sendiri, mencintai, dicintai, makan, minum, beristirahat, tidur, berlibur, kreatif berkarya, rajin bekerja nyata, bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja lembur, berbagi tugas, berhemat, berbagi rezeki, bayar pajak, bayar utang uang, membalas utang budi, menagih utang uang, menagih utang budi, berolahraga, berolahbatin, berolahilmu, berolahkata, berolah-waktu, berolahrasa-seni, berolahrasa-humor, berolahdana, maupun sampai dalam “seräkah” dan sukacita menjalankan kegiatan bekerja bakti menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan hidup kita bersama yang sama dan yang satu ini secara benar-benar wajar, optimal, bermoral, beretika, beragama, ber-Tuhan, berperikemanusiaan, berwawasan lingkungan, berwawasan kebangsaan, berkeadilan, berkemerdekaan, dan/atau secara benar-benar “baju2ra6bertetadi” alias secara benar-benar ba-ik, ju-jur, ra-mah, ra-jin, ber-tanggungjawab, ber-imajinasi, ber-inisiatif, ber-ani, ber-syukur, ber-manfaat, te-kun, dan ta-hu di-ri dalam rangka mewujudkan, merawat, maupun menumbuhkembangkan kebahagiaan lahir batin atau kesejahteraan hidup kita bersama yang benar-benar berkeadilan dan yang juga benar-benar berkesinambungan.

Baca juga :  Nadi Geliatkan Ekonomi Lewat Pariwisata Berkesinambungan di Lombok Utara

Kalimat kuncinya: Adil itu wajar. Wajar itu baik. Baik itu bermanfaat. Bermanfaat itu bahagia. Bahagia itu tujuan hidup hampir semua orang baik dan jujur. Atau bagaimana menurut Anda? Terima kasih! Matur suksema!

Joger, Kuta, Balinesia. 10032021. Subuh.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.