Selama COVID-19, Ekspor-Impor di Bali tetap Jalan

  • Whatsapp
SUASANA penyemprotan disinfektan di lingkungan kantor Bea Cukai Ngurah Rai, Badung, Bali, pada Senin (30/3/2020). foto: antaranews.

DENPASAR – Kegiatan ekspor dan impor di wilayah Bali masih berjalan dengan beberapa penyesuaian dan tidak ada pembatasan terhadap kegiatan tersebut selama terjadi wabah COVID-19.

“Tidak ada pembatasan ekspor dan impor. Pemerintah memberikan stimulus non fiskal untuk membantu proses impor dan ekspor,” kata Kepala Seksi Penyuluhan Layanan Informasi Bea Cukai Ngurah Rai, Teddy Triatmojo, di Denpasar, Kamis (2/4/2020).
.
Sebelumnya, dalam rangka menjamin ketersediaan alat kebutuhan penanggulangan COVID-19, Menteri Perdagangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 31 Tahun 2020 tanggal 24 Maret 2020 tentang Perubahan atas Permendag Nomor 23 Tahun 2020 tentang Larangan Sementara Ekspor Antiseptik, Bahan Baku Masker, Alat Pelindung Diri dan Masker, yang berlaku mulai tanggal 27 Maret 2020.

Bacaan Lainnya

Ia mengatakan bahwa importasi barang untuk keperluan penanggulangan COVID-19, yang masuk dalam kategori larangan atau pembatasan dapat dipenuhi dengan memperoleh surat rekomendasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Pengajuan Rekomendasi BNPB dapat dilakukan secara online dan menu Aplikasi LNSW Perijinan Tanggap Darurat, sedangkan untuk yang tujuannya kepentingan umum atau hibah juga dapat mengajukan permohonan pembebasan Bea Masuk dan Pajak Dalam Rangka Impornya,” katanya, seperti dikutip dari antaranews.

Selama proses ekspor dan impor, pengawasan dilakukan seperti biasa dengan mengutamakan protokol keselamatan petugas dan para pihak yang terkait di lapangan.

Baca juga :  Pengurus Desa Adat Seperti Bergantung SK MDA, Revisi Perda Bukan Hal Tabu

Selain itu, Ia menjelaskan dilihat berdasarkan jenis komoditas impor pada Januari sampai Maret 2020 tercatat terbanyak yaitu tas, electric machinery, dan aksesoris ponsel.

Selanjutnya, untuk volume impor berdasarkan dokumen yang diajukan pada Januari sampai dengan 25 Maret 2020, di antaranya Januari ada 664 Dokumen Impor, bulan Februari 459 Dokumen Impor, dan sampai dengan 25 Maret sebanyak 605 Dokumen Impor. Ia menambahkan, bahwa importasi berdasarkan negara pengekspor, ada tiga terbanyak, yaitu Singapura, China, dan Hong Kong. yes

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.