Sejumlah Kepala SMP di Gianyar Dimutasi

BUPATI Gianyar, I Made Mahayastra (kanan) saat menyerahkan SK kepada salah satu kepala SMP. foto: adi

GIANYAR – Dengan dibukanya kembali proses belajar mengajar tatap muka, Bupati Gianyar, I Made Mahayastra, menggelar mutasi kepala SMP Negeri di Gianyar. Penyerahan SK mutasi dilakukan di ruang sidang utama kantor Bupati, Selasa (23/3/2021).

Turut hadir Sekda Gianyar, I Made Gede Wisnu Wijaya; Asisten II Setda Gianyar, I Made Suradnya; Kepala Dinas BKPSDM Gianyar, I Wayan Wirasa; dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gianyar, I Wayan Sadra. Mutasi ini karena ada beberapa kepala sekolah masa jabatannya melewati batas waktu menurut aturan, ada kepala sekolah yang sudah pensiun, dan untuk penyegaran.

Read More

Bupati Mahayastra berharap mutasi ini, yang dilakukan bertepatan dengan dibukanya kembali proses belajar mengajar tatap muka, mampu menyegarkan suasana sekolah. “Saya berharap saudara-saudara sekalian bisa membuktikan diri bahwa memang pantas dan layak diangkat sebagai kepala sekolah,” pesannya.

Mahayastra menambahkan, tanggung jawab bukan saja kepada diri sendiri, pemerintah, bangsa dan negara, tapi yang lebih utama adalah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kata dia, tugas yang diemban mengandung tanggung jawab yang besar, dan merupakan kepercayaan yang harus dilaksanakan.

Dia minta tanggung jawab itu dijadikan sebagai ajang menunjukkan dan membuktikan kemampuan kerja terbaik. Kepada para kepala sekolah itu, dia juga mengingatkan agar meningkatkan wawasan dan pengetahuan dalam bidang tugas kepala sekolah, serta membina hubungan baik dengan rekan kerja sesama guru dan komite sekolah.

Juga mematuhi pedoman aturan yang berlaku, sehingga yang dikerjakan tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. “Serta jauhilah hal-hal yang melanggar hukum, apalagi menyebabkan berurusan dengan hukum,” tegasnya.

I Wayan Mawa, yang kini ditugaskan sebagai Kepala SMPN 1 Gianyar menggantikan Dewa Bawa, berharap dapat mengembangkan sekolah yang dipimpin sekarang, baik dari sisi akademik dan nonakademik. Dia akan menyasar pengembangan pendidikan karakter anak, yang dinilai merupakan modal kala anak terjun bermasyarakat menjalani kehidupan yang sebenarnya.

Terobosan yang akan dilakukan pada masa pandemi, dia ingin membuat klinik mata pelajaran (mapel), tempat anak-anak bisa berdiskusi dengan guru atau dengan tutor sebayanya mengenai mata pelajaran. Dengan demikian apa yang mereka butuhkan akan bisa mereka dapat dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

“Proses belajar mengajar akan dibatasi maksimal 18 siswa dengan jarak 1,5 meter antarsiswa, dan pembagian waktu per sif maksimal dua jam tanpa ada istirahat. Setelah proses belajar selama dua jam, siswa akan langsung dipulangkan, dan akan dilanjutkan sif berikutnya,” pungkas Mawa. adi

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.