Saudagar Kecil Sapi Gianyar Terjepit, Pasar Bebas Dinilai Untungkan Pemodal Besar

SAPI potong yang siap dikirim keluar Bali maupun dipotong untuk kebutuhan lokal. Foto: ist
SAPI potong yang siap dikirim keluar Bali maupun dipotong untuk kebutuhan lokal. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, GIANYAR – Menjelang Hari Raya Idul Adha 2026, geliat penjualan sapi potong di Bali justru memunculkan keluhan dari saudagar kecil dan peternak di Kabupaten Gianyar. Sistem penjualan sapi dengan pola “tarung bebas” antara saudagar sapi, dinilai membuat pelaku usaha bermodal kecil semakin sulit bersaing dengan pemodal besar.

Seorang saudagar sapi asal Kecamatan Gianyar, yang enggan disebutkan namanya, mengaku tidak berdaya menghadapi dominasi saudagar besar dalam perebutan kuota pengiriman sapi keluar Bali. Menurutnya, Bali setiap tahun mendapat kuota pengiriman sapi keluar pulau hingga sekitar 60 ribu ekor. Namun, praktik di lapangan, sebagian besar kuota justru dikuasai pemodal besar yang memiliki kemampuan membeli sapi dalam jumlah banyak.

Read More

“Kami yang modal kecil sebenarnya masih mampu membeli 10 sampai 15 ekor sapi, tetapi harus bersaing dengan saudagar besar. Akhirnya kuota habis lebih dulu dikuasai mereka,” keluhnya, Selasa (19/5/2026).

Dia menuturkan, kondisi tersebut memaksa saudagar kecil menjual kembali sapi yang sudah dibeli kepada saudagar besar, tentu dengan keuntungan sangat tipis. Jika tidak segera dijual, mereka harus menanggung biaya pakan harian yang cukup tinggi. “Sesama saudagar kecil akhirnya terpaksa menjual lagi ke saudagar besar. Untungnya tipis sekali, tetapi kalau tidak dijual kami terbebani biaya pakan,” sambungnya dengan nada lesu.

Selain persoalan persaingan modal, para saudagar juga mengeluhkan biaya uji kesehatan ternak yang dinilai cukup memberatkan. Meski sebagian besar sapi di Gianyar telah menerima vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) hingga tiga kali, kini setiap sapi juga diwajibkan lolos tes Lumpy Skin Disease (LSD). Penyakit tersebut merupakan gangguan kulit yang menyebabkan benjolan pada tubuh sapi. Untuk satu kali pengujian LSD, biaya yang harus dikeluarkan disebut mencapai sekitar Rp500 ribu per ekor.

“Kami berharap uji LSD bisa digratiskan supaya peternak dan saudagar kecil tidak semakin terbebani,” pintanya.

Berdasarkan informasi di lapangan, dari sekitar 6.000 ekor sapi Gianyar yang berhasil keluar daerah, hanya sekitar 450 ekor yang dipenuhi saudagar lokal Gianyar. Selebihnya banyak dibeli langsung oleh saudagar dari luar daerah yang datang ke peternak. “Kami kalah modal dan kalah kuat. Peternak juga jadi waswas, karena saat musim penjualan sapi justru tidak sepenuhnya menjadi berkah,” tambahnya.

Data populasi sapi di Gianyar per akhir April 2025 tercatat sebanyak 38.441 ekor. Dari jumlah tersebut, sekitar 6.000 ekor merupakan sapi potong yang siap dikirim keluar Bali maupun dipotong untuk kebutuhan lokal.

Saat ini harga sapi hidup dengan bobot di bawah 350 kilogram berada di kisaran Rp52 ribu per kilogram. Sementara sapi dengan bobot di atas 350 kilogram berkisar Rp50 ribu per kilogram hidup, dan sapi berbobot lebih dari 400 kilogram dapat mencapai Rp55 ribu per kilogram hidup. Harga tersebut mengalami kenaikan dibanding sebelum mendekati Idul Adha, yang berada di kisaran Rp46 ribu per kilogram hidup. Sementara harga kambing kurban rata-rata mencapai lebih dari Rp15 juta per ekor. adi

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.