Sakit Ginjal Sejak Lama, Mantan Bupati Karangasem Gede Sumantara Berpulang

JENAZAH mantan Bupati Karangasem, I Gede Sumantara Adi Prenatha, saat tiba di rumah duka di Lingkungan Jeruk Manis, Kelurahan Karangasem pada Minggu (13/3/2022). Foto: ist

KARANGASEM – Bupati Karangasem periode 2000-2005, I Gede Sumantara Adi Prenatha, mengembuskan napas terakhir di RSUP Sanglah, Denpasar, Sabtu (12/3/2022). Jenazah baru dipulangkan dari RSUP Sanglah ke rumah duka dan tiba di Lingkungan Jeruk Manis, Kelurahan Karangasem pada Minggu (13/3/2022) sekitar pukul 12.45 Wita.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Minggu (13/3/2022) almarhum awalnya diketahui hanya menderita penyakit asam urat. Untuk perawatan, pihak keluarga menggunakan perawatan dokter Home Care yang datang langsung ke rumah.

Bacaan Lainnya

“Bapak awalnya memang menderita sakit asam urat sejak beberapa tahun lalu, dan dirawat Home Care di rumah oleh dokter,” tutur I Komang Ari, anak ketiga almarhum, kepada awak media.

Kendati dalam kondisi sakit, almarhum masih aktif melaksanakan kegiatan di partai maupun kegiatan sosial lainnya. Untuk diketahui, hingga akhir hayatnya, almarhum masih menjabat sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Karangasem.

Komang Ari melanjutkan, almarhum ayahnya mulai drop sejak tiga bulan terakhir karena penyakit ginjal. Almarhum sempat dibawa beberapa kali berobat ke RS Surya Husada Denpasar sebelum kemudian dirujuk ke RSUP Sanglah. Dari hasil pemeriksaan terakhir dokter, ternyata ginjalnya hanya berfungsi 10 persen.

“Bapak sempat menjalani cuci darah, setelah cuci darah itulah kondisinya makin ngedrop dan kesadarannya menurun. Kemarin sekitar pukul 23.00 Wita bapak meninggal dunia,” ungkapnya dengan nada bergetar.

Baca juga :  Pastikan Pedagang-Pengunjung Ikuti Prokes, GTPP Covid-19 Denpasar Pantau Semua Pasar Rakyat

Suasana duka menyelimuti keluarga besar almarhum, terutama istrinya, Ni Nyoman Chandrawati. Berbagai ritual dilaksanakan pihak keluarga, dari mulai kedatangan jenazah almarhum di rumah duka, sampai disemayamkan di bale-bale.

Pelayat dan kerabat terus berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa. “Upacara ngaben masih kami rembukkan untuk mencari hari baik,” timpal Ni Nyoman Chandrawati menandaskan. nad

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.