RSUD Mangusada Kapal

  • Whatsapp
RUMAH Sakit Umum Daerah (RSUD) Mangusada, di Desa Kapal, Mengwi, Kabupaten Badung. foto: ist

Oleh Made Nariana

BAGAIMANA PUN masyarakat Badung boleh tetap bangga. Kenapa? Bangunan megah di kawasan Desa Kapal, Mengwi merupakan sebuah Rumah Sakit Umum Daerah Mangusada (disingkat RS Kapal) – merupakan bukti bidang kesehatan masyarakat mendapat perhatian cukup membanggakan.

Bacaan Lainnya

Konon, peralatan medis di RS tersebut sangat canggih. Tetapi SDM (sumber daya manusia) masih terbatas. Sebagian masih menjalankan tugas pendidikan, sehingga nanti dapat memanfaatkan peralatan medis yang modern. Gedung sudah wah, dan megah semuanya!

Di samping itu, manajemen RS perlu juga digenjot supaya maksimal bekerja demi kepentingan masyarakat. Bukan kepentingan orang per-orang yang berusaha mencari makan di balik penderitaan masyarakat.

Dalam suatu rapat kerja antara Komisi IV DPRD Badung dengan Dinas terkait termasuk Manajemen RS Kapal, saya pernah memberi masukan. Kesan, pelayanan RS masih rendah, perlu mendapat perhatian. Pelayanan dengan cara modern seperti sistem bank-bank internasional perlu dicontoh.

Artinya pelayanan harus sejalan dengan gedung yang megah dan mewah. Kuncinya terletak di sektor SDM yang mestinya bekerja keras, tulus, iklas dan tuntas seperti berulang kali diperintahkan Bupati Badung Nyoman Giri Prasta. Pelayanan harus seirama dengan jasa pelayanan kesehatan yang mereka terima.

Baca juga :  Persiapan Pendaftaran Amertha, Golkar Candai Demokrat

Kontrol internal dan eksternal juga harus tegas. Transparan, terbuka dan professional. Petugas RS yang professional tentu harus menjalankan pekerjaan sesuai bidang tanggungjawabnya.

Kunci sebuah usaha termasuk RS adalah pelayanan. Unsur pelayanan selalu menjadi penilaian masyarakat. Soal harga, masalah harga obat, harga kamar (jika harus bayar), sering tidak menjadi beban, jika pelayanannya maksimal.

Soal pelayanan itulah sering diperdebatkan, jika wakil rakyat melakukan rapat kerja dengan instansi terkait, khususnya di bidang pelayanan termasuk RS Kapal.

Pelayanan itu, bukan saja saat pasien dalam proses awal masuk RS. Tetapi justru termasuk selama mereka melakukan proses-proses berikut, termasuk dalam kamar, jika yang bersangkutan harus ngamar.

Saya punya teman, kebetulan ia terbilang tokohlah. Pernah jengkel saat ngamar karena merasa pelayanannya kurang baik. Sampai teman saya itu nelpon Bupati Badung, karena merasa tidak betah melihat pelayanan (menurut perasaan yang bersangkutan.) — kurang baik.

Hal seperti ini, sebetulnya tidak boleh terjadi. Bagaimana kalau pasien tidak punya akses kepada orang nomor satu di Badung? Silakan jawab sendiri!. Seharusnya siapa pun, harus diberikan pelayanan terbaik, jika RS tersebut ingin nomor satu di Bali, juga nomor satu di Indonesia dalam persoalan pelayanan…..

Belum lama ini ada pergantian pucuk pimpinan di RS Kapal. Tentu harapan masyarakat, akan terjadi perbaikan sistem manajemen yang lebih baik, terbuka, transparan dan akuntabel.

Baca juga :  Rai Mantra: Waspadai Penularan Covid-19 dari Klaster Upacara Keagamaan dan Perkantoran

Saya percaya akan dapat dilakukan lebih baik, jika semua pejabat di atas memberikan teladan. Bekerja sesuai tugas, jabatan dan fungsinya.

Jangan malah staf bergaya direksi atau wakil direktur bergaya direktur. Kalau itu yang terjadi, jangan harap akan terjadi perbaikan pelayanan. Mereka malah saling curiga satu sama yang lain.

Apa itu yang diinginkan? Bagaimana pun pintarnya seseorang, ia pasti memerlukan bantuan orang lain. Alam memastikan seperti itu. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.