DENPASAR – Akar Rumput Strategic Consulting (ARSC) tentang sumber merilis hasil surveinya mengenai kepemimpinan nasional menuju 2024, pekan lalu. Dari banyak topik yang diriset, isu gender dan tingkat resistensi atau penolakan terhadap tokoh tertentu cukup menarik disimak. Dua isu ini makin kuat kontekstualnya setelah adanya konflik internal di PDIP, dengan Ketua DPR RI, Puan Maharani; versus Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo sebagai aktornya.
Berdasarkan data hasil riset yang diperoleh, dalam pertanyaan pertimbangan memilih sesuai gender, 93,97 persen responden memilih laki-laki, 6,03 memilih perempuan. Jika dikaitkan dengan prestasi atau kekerabatan, 96,53 persen memilih sosok berprestasi, 3,47 berdasarkan kekerabatan. Untuk asal kalangan, pilihan responden cukup menggembirakan dengan 60,58 persen memilih dari sipil, 34,05 dari militer, dan 5,37 persen dari polisi. Poin ini menyiratkan bahwa 1.200 responden yang disurvei masih percaya bahwa negeri ini dapat dan seharusnya diurus orang sipil, meski sebagian juga masih percaya atau ingin kalangan militer dan polisi yang memimpin negeri.
Mencari sosok ideal untuk dijadikan calon presiden, 19,01 persen responden menjawab dibutuhkan yang berasal dari profesi kepala daerah. Militer di posisi kedua dengan 17,77 persen, menteri 7,85 persen, dan ketum parpol 4,63 perden.
Di segmentasi perempuan, dari sejumlah nama yang disodorkan, Puan Maharani menempati urutan kelima dengan 4,01 persen. Elektabilitasnya jauh di bawah mantan Menteri KKP, Susi Pudjiastuti, di posisi pertama dengan 24,21 persen. Meski nilainya kecil, tapi Puan justru menyalip ibunya, Megawati Soekarnoputri, yang hanya kebagian 2,79 persen. Sementara Ibu Negara, Iriana Joko Widodo, cuma dilirik 1,07 persen responden.
Dengan latar belakang sebagai kepala daerah, Ganjar mendapat elektabilitas 26,20 persen, di bawah Anies Baswedan di posisi pertama dengan 33,80 persen. Sementara di posisi ketiga ada Ridwan Kamil dengan 25,62 persen.
Dalam pertanyaan top of mind, jika pemilu dilakukan saat ini maka yang paling banyak dipilih adalah Anies Baswedan (17,01), Prabowo Subianto (14,31) dan Ganjar Pranowo (11,25). Menariknya, saat ditanya siapa tokoh paling tidak diharap menjadi Presiden, justru nama Prabowo masuk di urutan teratas dengan 14,98 persen, Anies Baswedan (12.91), Agus Harimurti Yudhoyono (5,55) dan Puan Maharani (5,30).
Membaca data itu, Puan termasuk figur dengan elektabilitas lumayan di segmentasi perempuan. Namun, pada saat yang sama, dia juga menjadi sosok yang mendapat cukup resistensi. Jika benar Prabowo dan Puan hendak dipaketkan sebagai Capres/Cawapres, dan pemilu digelar dalam saat ini, sepertinya hasil riset ini layak jadi pertimbangan. Jika digabung, resistensi terhadap Prabowo dan Puan menjadi 20,28 persen. Dengan margin error 2,9 persen, dapat dibaca resistensi terhadap Prabowo dan Puan bisa saja 23,18 persen atau 17,38 persen.
Temuan lain yang cukup seksi adalah besarnya keinginan responden agar Presiden Jokowi menyatakan dukungan kepada salah satu calon Presiden, yang akan meneruskan program-programnya selama ini. 74,13 persen menyatakan setuju, 23,88 menyatakan tidak setuju, 1,65 persen menyatakan tidak tahu, dan 0,33 persen tidak menjawab. Menurut kesimpulan ARSC, Jokowi dapat menjadi “king maker” yang memiliki pengaruh kepada publik atas pilihan yang layak menjadi Presiden.
Mengenai masuknya nama Iriana Joko Widodo, akademisi FISIP Universitas Udayana, Dwita Apriani, menilai harus diperhatikan apakah itu pertanyaan terbuka atau ada framing sebelumnya. Bisa juga periset memasukkan nama itu untuk melengkapi nama perempuan agar tidak ada bias gender. Intinya, dia tidak yakin nama Iriana itu lahir secara alamiah.
“Kalaupun sudah di-framming dan angkanya kecil, kemudian dibandingkan dengan margin error, yaada atau tidak ada sama sama saja. Intinya, jangan menganalisis terlalu prematurlah,” cetusnya, Kamis (27/5/2021). hen























