Pilkada Bersaing Ketat, Persahabatan Tetap Dekat

  • Whatsapp
Ngurah Ambara ngobrol dengan Jaya Negara usai sembahyang bersama yang diinisiasi Amerta di Pura Jagatnata, Jumat (25/9/2020). Foto: gus hendra
Ngurah Ambara ngobrol dengan Jaya Negara usai sembahyang bersama yang diinisiasi Amerta di Pura Jagatnata, Jumat (25/9/2020). Foto: gus hendra

DENPASAR – Penampahan Kuningan, Jumat (25/9/2020) menjadi tempo perekat paslon Jaya-Wibawa dan paslon Amerta untuk bertemu tanpa misi kontestasi. Diiringi segelintir pendukung, duet IGN Jaya Negara-Kadek Agus Arya Wibawa dan paket Ngurah Ambara Putra-Bagus Kertanegara sembahyang bersama di Pura Jagatnata, Denpasar. Keduanya tiba tepat waktu, sehingga persembahyangan yang diinisiasi Amerta ini bisa dimulai tepat pukul 09.00 Wita sesuai agenda. Ini kali kedua mereka bertemu, setelah acara ngelawar bareng yang diadakan Jaya-Wibawa.

Usai khusyuk sembahyang sekira 10 menit, kedua paslon bersama-sama membuat video ucapan selamat Hari Raya Kuningan bagi umat Hindu di Bali. Ambara menyiapkan teks ucapan selamat untuk disampaikan bersama. Dia sempat diskusi dengan Jaya Negara mengenai narasi ucapan, apakah disetujui atau ada perlu diubah. “Nggih, tyang terserah Pak Ngurah aja. Tyang ngikuti manten, niki acaranya Pak Ngurah (Iya, saya terserah Pak Ngurah saja. Saya ikut saja, ini acaranya Pak Ngurah) ,” jawab Jaya Negara sembari menjura ke Ambara.

Bacaan Lainnya

Setelah disepakati, kedua paslon direkam untuk ucapan selamat. Dan, seperti biasa, jika sudah dalam kondisi santai, Kertanegara mulai terlibat saling ledek dengan Jaya Negara. Sebab, di luar kontestasi, keduanya merupakan kawan lama. Kertanegara mengajak foto bersama dengan Jaya Negara, dengan membawa tongkat kecil, sedangkan Ambara dan Arya Wibawa “menepi”.

Baca juga :  Gambar di Surat Suara Tanpa Ekspresi Tangan

Jaya Negara berkata tongkat yang Ketanegara mirip dengan tongkat pusaka yang diberi seorang figur dari salah satu puri di Denpasar untuknya, sehari sebelumnya. “Bagus niki (ini) tongkatnya Pak Sting (panggilan akrab Kertanegara),” celetuknya sambil memegang tongkat itu. “Ah Turah bisa aja, tongkat biasa ini,” sahut Kertanegara.

Usai membahas tongkat, Jaya Negara memuji Amerta dalam memaknai angka 2, yang menjadi nomor urut mereka di Pilkada Denpasar. “Bagus itu maknanya, Rwa Bhineda, pasti ada yang ngasi tahu ya?” cetusnya cekikikan. Ambara langsung menyahut bahwa Rwa Bhineda itu sebagai bentuk keseimbangan hidup. “Hidup kan seimbang Turah. Itu tujuan kami,” jawabnya kalem.

Omong-omong, apa tadi yang didoakan? Ditanyakan hal itu, Arya Wibawa mendaku doa utama yang dipanjatkan agar masyarakat Bali, terutama Denpasar, bisa segera lepas dari cengkeraman Corona. Sehebat apapun pemimpin, jika Corona tak kunjung pergi, tetap saja akan sulit meningkatkan kehidupan rakyatnya. “Bagi kami keselamatan masyarakat yang utama, itu permintaan saya saat sembahyang tadi,” ujar politisi asal Denpasar Selatan tersebut.

Harapan senada diutarakan Kertanegara saat sembahyang. Selain memohon agar pilkada berjalan aman, damai, dan kondusif, dia juga berharap siapapun memimpin Denpasar tetap memegang tali persaudaraan. “Kita sesama warga Denpasar agar selalu bisa memegang tali simakrama menyama braya,” cetusnya.

Anggota Bawaslu Denpasar, Komang Putra Wiratma, melayangkan apresiasi kegiatan sembahyang bersama kedua paslon itu. Dalam kondisi pandemi, sikap keduanya memberi kesejukan bagi masyarakat Denpasar. Pilkada yang mengedepankan kekerabatan dalam kontestasi seperti ini, sebutnya, dapat memberi harapan lahirnya proses demokrasi yang berjalan aman, tertib, dan damai. “Sikap yang menunjukkan adab dan kesantunan ini layak dijadikan contoh,” ulas komisioner berpostur sentosa itu. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.