Penyelenggara Pemilu Wajib Waspadai Gratifikasi, Lidartawan Ingatkan Komisioner Jaga Integritas

  • Whatsapp
Semara Cipta dan Lidartawan. Foto: hen
Semara Cipta dan Lidartawan. Foto: hen

DENPASAR – Menjaga marwah lembaga, seorang penyelenggara Pemilu dituntut benar-benar rigid menjaga perilakunya di masyarakat. Bahkan untuk sekadar bertemu seseorang saja di luar kantor, mesti mempertimbangkan sejumlah hal. Pesan itu yang digemakan saat Workshop Pengendalian Gratifikasi dan Benturan Kepentingan yang diselenggarakan KPU RI untuk jajaran penyelenggara Pemilu di daerah, belum lama ini.

Menurut komisioner KPU Bali, AA Raka Nakula, workshop itu untuk menguatkan jajaran penyelenggara tentang pengertian gratifikasi, termasuk membedakan dengan suap atau pemerasan. “Kalau suap itu contohnya pengusaha memberi untuk dapat proyek, kalau pemerasan itu memaksa orang dengan menyalahgunakan jabatan. Sementara gratifikasi itu tidak butuh kesepakatan tapi berhubungan dengan jabatan, misalnya diberi voucher belanja karena orang itu merasa dibantu urusannya,” terang Nakula, Jumat (12/11/2021).

Bacaan Lainnya

Signifikansi workshop itu bagi penyelenggara di Bali, sambungnya, sangat terasa. Alasannya, dalam budaya kekeluargaan di Bali yang sangat dekat, para komisioner rentan terkena gratifikasi jika tidak mampu memilah pemberian yang diterima. Contoh sederhana adalah adanya sumbangan uang saat ada upacara agama.

“Bukan tidak boleh sama sekali, tapi nilainya ditentukan yang pantas. Kalau melebihi dari ketentuan, berarti termasuk gratifikasi. Ada upacara nikah, ada yang nyumbang sampai 5 juta, itu patut diduga gratifikasi. Uangnya dilaporkan ke tim pengendali gratifikasi, nanti dikembalikan ke orangnya atau ke kas negara,” urainya.

Baca juga :  PB-PMII Desak Erick Tohir Copot Dirut ITDC, Kasus Lahan di Mandalika Banyak Tak Tuntas

“Kalau berbentuk barang, bisa disumbangkan ke yayasan setelah ada penilaian atau ada putusan tim pengendali. Intinya, penyelenggara mesti hati-hati ada pemberian di luar tupoksi,” tandasnya.

Ketua KPU Badung, I Wayan Semara Cipta, di kesempatan terpisah, secara berkelakar menilai menjadi komisioner KPU yang bersentuhan dengan peserta Pemilu itu bak manusia setengah dewa. Harus benar-benar memperhatikan bertemu siapa, di mana, waktunya kapan, dan sebagainya. Belum ada tahapan Pemilu saja harus waspada, apalagi jika sudah masuk tahapan Pemilu.

“Diajak makan di luar kantor pun mesti lihat-lihat yang ngajak juga, itu afiliasinya ke mana, jangan sampai ternyata orang ada kepentingan dengan peserta Pemilu. Kalau wartawan yang ngajak makan, nggak masalah,” candanya.

Secara garis besarnya, ucapnya, para komisioner dituntut menjaga marwah lembaga KPU, dengan berintegritas dan tetap independen. Hal ini diakui butuh kecermatan menempatkan diri dan memaknai situasi. Sebab, bisa jadi niat yang memberi itu baik, tapi tindakan bisa tergelincir menjadi pelanggaran kode etik bagi penyelenggara. Contoh sederhana yakni peserta Pemilu memberi konsumsi nasi bungkus ketika staf KPU melakukan verifikasi parpol hingga larut malam.

“Mungkin niatnya baik, empati atau kasihan dengan kami yang begadang sampai malam, makanya ngasih nasi bungkus. Tapi itu tetap tidak boleh dan dicermati DKPP atau Bawaslu, intinya tetap waspada,” sebutnya.

Ketua KPU Bali, I Dewa Agung Gede Lidartawan, menambahkan, dia selalu mengingatkan koleganya sesama komisioner untuk menjaga komitmen bersama menolak gratifikasi dalam bentuk apapun. Spirit itu terus diingatkan untuk dibawa ke arah kebaikan. Dan, dia mendaku bangga karena sampai saat ini tidak ada kejadian di Bali komisioner KPU terjerat kasus terkait gratifikasi atau suap.

Baca juga :  Bali Tambah 4 Pasien Covid-19 Meninggal, Jembrana-Bangli Kembali Nihil Tambahan Kasus Positif Harian

“Itu artinya komitmen menjaga integritas masih bagus sejauh ini. Hal ini yang saya ingatkan terus setiap tahun, terutama jangan sampai pada masa kepemimpinan saya ada komisioner di Provinsi atau di kabupaten/kota melanggar komitmen tersebut,” lugasnya menandaskan. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.