Pariwisata Terpuruk, Wagub Cok Ace Ajak Masyarakat Bali Kembali ke Pertanian

  • Whatsapp
WAGUB Cok Ace (tengah) saat Webinar Transformasi Bali Nusra “Balinusra Menuju Pertanian 4.0” yang diselenggarakan Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Provinsi Bali secara daring, Selasa (14/9/2021). foto: ist

DENPASAR – Belajar dari pandemi Covid-19 yang menekan pertumbuhan ekonomi Bali hingga titik nadir, Wakil Gubernur (Wagub) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) mendorong upaya penguatan sektor pertanian.

Hal tersebut dikatakan Wagub Cok Ace dalam Webinar Transformasi Bali Nusra “Balinusra Menuju Pertanian 4.0” yang diselenggarakan Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Provinsi Bali secara daring, Selasa (14/9/2021).

Bacaan Lainnya

Wagub Cok Ace menuturkan, Bali mengalami kontraksi ekonomi paling hebat jika dibandingkan provinsi lain di Indonesia karena sangat bergantung pada sektor pariwisata. Ia menyebut, 54 persen PDRB bersumber dari sektor ini sehingga di masa pandemi, Bali kehilangan devisa hingga Rp9,7 triliun setiap bulan. “Bali sangat terpuruk karena ketergantungan pada sektor pariwisata. Sementara daerah lain lebih tahan,” katanya.

Menurut Cok Ace, hal ini perlu dijadikan bahan evaluasi untuk menggenjot sektor alternatif selain pariwisata. Salah satu sektor alternatif yang menurutnya harus digarap lebih serius adalah pertanian. Untuk menggairahkan sektor pertanian, ia mendorong pemanfaatan teknologi. “Penerapan teknologi di bidang pertanian sangat penting untuk menarik minat generasi muda menekuni sektor ini,” imbuhnya.

Baca juga :  Banting Harga Hotel Bukan Solusi Cerdas di Masa Pandemi

Ke depan ia berharap sektor pertanian bisa memberi kontribusi yang sama besar dengan pariwisata. “Jika kedua sektor ini bisa dijadikan lokomotif perekonomian secara imbang, saya yakin kita tak akan menghadapi keterpurukan seperti ini,” sebutnya.

Cok Ace mengajak masyarakat Bali agar kembali menekuni pertanian dan membangkitkan kerajinan lokal di tengah kondisi pandemi covid-19. Harapannya bisa mendongkrak aktivitas perekonomian yang kini tengah tertekan.

Karena, lanjut dia, Bali pada awalnya hidup di sektor agraris kemudian beralih pada sektor pariwisata, dan secara tanpa sengaja melompati sektor industri pengolahan (sekunder). Kontribusi sektor pariwisata sebelum pandemi mencapai 68 persen, sedangkan sektor pertanian dan pengolahan berkisar 15 hingga 17 persen.

“Oleh karena itu, beberapa langkah yang saat ini bisa dilakukan yakni kembali menekuni sektor pertanian, kelautan, perikanan, dan membangkitkan kerajinan lokal sebagai mata pencaharian penopang ekonomi rakyat,” ujarnya.

Cok Ace menambahkan, hikmah yang dapat dipetik saat ini, salah satunya harus kembali kepada sektor pengolahan hasil-hasil pertanian yakni di antaranya memetik buah yang ditanam contohnya jeruk dan salak yang masing-masing buah ini dapat diolah menjadi jus yang kemudian bisa dijual untuk masyarakat lokal. alt

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.