PTM Harus Utamakan Kesehatan dan Psikologis Anak

  • Whatsapp
SISWA saat melaksanakan vaksinasi di sekolah. Walau pada daerah yang PPKM Level 3 sudah diperkenankan menggelar PTM terbatas, Kota Denpasar tidak buru-buru melaksanakan PTM terbatas. Foto: ist
SISWA saat melaksanakan vaksinasi di sekolah. Walau pada daerah yang PPKM Level 3 sudah diperkenankan menggelar PTM terbatas, Kota Denpasar tidak buru-buru melaksanakan PTM terbatas. Foto: ist

DENPASAR – Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Kota Denpasar sudah turun dari Level 4 ke Level 3. Namun Kota Denpasar tidak buru-buru melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di sekolah.

‘’Walaupun pada daerah yang PPKM Level 3 sudah diperkenankan menggelar PTM terbatas, dan sekolah sudah melakukan persiapan matang, tetapi kami (Kota Denpasar) belum bisa langsung melakukan PTM terbatas. PTM terbatas akan kita awali dengan melaksanakan uji coba, dan itu (uji coba) masih kami koordinasikan dengan MKKS untuk menentukan jumlah siswa, dan skema lainnya. Termasuk izin dari orang tua siswa,’’ ujar Kabid Pembinaan SMP Disdikpora Kota Denpasar, AA Gede Wiratama, Rabu (15/9/2021).

Bacaan Lainnya

Menurut Agung Wiratama, uji coba ini sangat penting. Dengan uji coba akan diketahui mana yang harus diperbaiki. Selain itu juga akan diketahui pula kesiapan para tenaga pendidik, tenaga kependidikan, infrastruktur atau sarana dan prasarana protokol kesehatan (prokes). Jika ada kekurangan masih ada waktu untuk diperbaiki.

‘’Kami merasakan bagaimana para siswa rindu sekali ingin sekolah. Hampir dua tahun pelajaran mereka tidak sekolah secara tatap muka. Jadi wajar jika mereka ingin sekali PTM segera digelar,’’ ungkap Agung Wiratama.

Baca juga :  PDIP Akan Pecat Kadernya Jika Terlibat Narkoba

Di kesempatan terpisah, psikolog Aritya Widianti, S.Psi., M.Psi., Psikolog, mengungkapkan, anak-anak berhak dan wajib mendapat akses pendidikan yang berkualitas, aman dan nyaman.  PTM wajib utamakan kesehatan dan psikologis anak dilaksanakan dengan prosedur yang betul-betul diperhatikan baik pemangku kebijakan, pendidik, orang tua dan terlebih anak-anak sebagai pelaku utama dalam PTM.

‘’Pemerintah sebagai pemangku kebijakan tentunya sudah mempertimbangkan apa dan bagaimana PTM akan diselenggerakan,’’ lugasnya.

Aritya Widianti berkata, sekolah harus menyediakan dua opsi bagi siswa yaitu PTM terbatas dan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Setiap kelas hanya bisa menampung maksimal separuh dari jumlah siswa. Pembelajaran dalam seminggu berlaku dua hari sedangkan empat hari lainnya dilakukan di rumah.

Dosen Prodi Psikologi Universitas Bali Internasional ini menambahkan, jika PTM dilaksanakan guru tidak diperkenankan mengejar ketertinggalan materi serta tidak boleh ada diskriminasi jika siswa memilih untuk tetap belajar di rumah. Prokes di sekolah dan implementasinya harus sesuai standar Satgas Covid-19.

Lebih jauh diutarakan Aritya Widianti, orang tua memiliki hak sekaligus kewajiban bagi putra-putri mereka berkaitan dengan wacana PTM di sekolah. Hak dan kewajiban ini memastikan sungguh-sungguh penyelenggara pendidikan (sekolah) sudah bersiap menyambut PTM sesuai dengan standar Satgas Covid-19 dan arahan Kemendikbudristek.

‘’Orang tua juga mendapat akses mengenai bagaimana persiapan dan proses PTM apabila hal tersebut akan diselenggarakan.  Penting pula mengedukasi anak-anak terutama di tingkat Sekolah Dasar (SD) dimana belum ada ketersediaan vaksin bagi anak usia di bawah dua belas tahun. Orang tua dapat mengedukasi melalui link edukasi yang tersedia gratis, misalnya mengunduh https://bit.ly/BukuKorona_1. Selain buku, orang tua bisa memakai edukasi dengan memberi contoh secara langsung kepada anak-anak terutama dalam hal protokol kesehatan,’’ paparnya psikolog di Denpasar Mental Health Center ini.

Baca juga :  Pemerintah Bebaskan Bunga KUR bagi Masyarakat Terdampak Covid-19

Ia juga memandang penting akses vaksin bagi orang-orang yang mendukung terselenggaranya pendidikan. Orang-orang yang dimaksud bukan saja guru namun tenaga pendukung seperti petugas administrasi, petugas kebersihan dan petugas keamanan di sekolah. Kiranya sinergi antara pemangku kebijakan, penyelenggara pendidikan, dan orang tua siswa dapat membawa hal positif untuk pendidikan Indonesia. ‘’Pemerintah menyiapkan aturan PTM yang tepat. Sekolah mempersiapkan metode pembelajaran dan prokes bagi persiapan PTM,’’ lugasnya memungkasi. tra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.