DENPASAR – Adanya bantuan uang tunai dari Kementerian Pertanian kepada ratusan peternak sapi yang terdampak penyakit mulut dan kuku (PMK) yang dipotong bersyarat, Senin (19/9/2022) diapresiasi Komisi 2 DPRD Bali. Bantuan diserahkan Sekda Provinsi Bali, Dewa Made Indra, setelah menerima dari Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Kementerian Pertanian, Syamsul Maarif, di Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali. Terlepas dari nominalnya, bantuan tersebut dipandang sebagai wujud keseriusan pemerintah pusat memperhatikan lara peternak sapi di Bali.
Sekretaris Komisi 2 DPRD Bali, Utami Dwi Suryadi, Selasa (20/9/2022) melayangkan apresiasi terhadap bantuan itu. Menurutnya, bantuan tersebut memang selayaknya dikucurkan untuk peternak yang dengan sukarela ternaknya dipotong demi mencegah penyebaran PMK. Pemotongan bersyarat merupakan salah satu jalan memutus mata rantai penularan penyakit PMK di Bali.
“Wajar peternak mendapat haknya berupa ganti rugi walaupun (nominalnya) mungkin belum memadai,” ucap politisi Partai Demokrat tersebut.
Dalam pandangannya, bantuan juga sangat layak karena terbukti Bali bisa dengan cepat mencegah penyakit PMK menyebar luas. Capaian tersebut berkat kerjasama yang baik antara Satgas Penanganan Penyakit PMK dengan para peternak di Bali. Sebab, jika sampai penyakit PMK meluas di Bali, tentu akan menjadi isu internasional. “Dampaknya akan meluas ke segala sektor ekonomi, khususnya pariwisata, yang menjadi andalan perekonomian di Bali,” terangnya.
Segendang sepenarian, anggota Komisi 2, Cokorda Gede Agung, juga merasa bersyukur pemerintah pusat memperhatikan kesusahan peternak sapi di Bali. Selain tidak bisa menjual ternaknya karena terjangkit PMK, mereka juga mesti merelakan peliharaannya dipotong bersyarat.
“Tentu kami mensyukuri ada bantuan uang tunai dari pusat itu. Memang kalau bicara nominal, bisa jadi tidak sesuai permohonan atau harapan. Tapi setidaknya itu bisa meringankan kesulitan para peternak,” kata politisi PDIP asal Klungkung tersebut di kesempatan terpisah.
Menurutnya, hal yang perlu diperhatikan saat ini oleh peternak adalah bagaimana mengelola bantuan pusat itu agar bermanfaat bagi kelangsungan hidup mereka. “Betul kalau bicara nilai mungkin jauh dari harapan, tapi kami harap itu bisa dimaklumi mengingat kondisi ekonomi kita saat ini. Minimal pemerintah sudah berupaya yang terbaik meringankan kesulitan peternak,” tandasnya.
Sebelumnya, Sekda Dewa Indra mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Pertanian yang merealisasikan janji memberi bantuan kepada 412 peternak. Mereka adalah peternak yang setuju memotong sapi mereka dengan bersyarat sesuai program pemerintah pusat. “Ini bukanlah perjuangan yang sebentar dan memerlukan waktu yang cukup lama, karena kami harus terus melobi Kemenkomarves (Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi),” jelasnya saat menyerahkan bantuan.
Dia juga berterima kasih kepada para peternak karena merelakan sapinya dipotong bersyarat. Menurutnya setiap sapi yang dipotong bersyarat dibayar pemerintah sebesar Rp10 juta. “Ini salah satu bentuk partisipasi bapak/ibu dalam upaya mencegah penyebaran PMK di Bali, dengan merelakan sapi-sapi bapak/ibu dipotong,” sebut birokrat asal Buleleng itu.
Jumlah sapi secara keseluruhan yang dipotong bersyarat di Bali sebanyak 412 ekor yang dimiliki 150 peternak. Jadi, total bantuan yang dikucurkan Rp4,12 miliar. 139 ekor sapi dimiliki 64 peternak dari Denpasar, Gianyar, Jembrana, Klungkung dan Tabanan. Sementara untuk 273 ekor sapi dimiliki 86 peternak dari Badung dan Buleleng sudah disalurkan sebelumnya. hen
























