Ngusaba Kadasa Jadi Ruang Edukasi 100 Tahun Peristiwa Rarud Batur

JERO Penyarikan Duuran Batur. Foto: ist
JERO Penyarikan Duuran Batur. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, BANGLI – Pujawali Ngusaba Kadasa 2026 di Pura Ulun Danu Batur menjadi momentum istimewa, karena bertepatan dengan seratus tahun peristiwa Rarud Batur. Peristiwa sejarah ini merupakan masa relokasi Desa Batur dari kaki Gunung Batur ke lokasi saat ini.

Jero Penyarikan Duuran Batur menyampaikan, Ngusaba Kadasa tahun ini memperkuat narasi Rarud Batur sebagai bentuk perenungan seabad silam. Hal ini dicerminkan melalui rekonstruksi visual masa lalu pada berbagai piranti upacara dan dekorasi kawasan pura.

Bacaan Lainnya

Di batas kesucian desa, dibuat figur Baris Batur yang terdiri atas Baris Jojor, Gede, Bajra, Perisi, dan Dadap. Baris ini merupakan simbol spirit perjuangan masyarakat Batur sekaligus tari yang diakui sebagai warisan budaya dunia.

“Persembahan pala bungkah-pala gantung juga dibentuk tematik mewujudkan figur Dewa Wisnu, Dewi Sri, dan Garuda Wisnu Kencana. Ini perwujudan bakti masyarakat subak atas limpahan anugerah aliran air dan kemakmuran tanah,” ujar Jero Penyarikan, Kamis (2/4/2026).

Pihak panitia juga menyediakan ruang pameran visual di area jaba sisi, jabaan, hingga jaba tengah. Foto-foto tersebut merekam dinamika Batur selama seratus tahun terakhir sebagai media edukasi, khususnya bagi generasi muda.

Selain pameran, terdapat videotron di jaba tengah yang menyajikan narasi Pura Pangideran Ida Bhatari Batur dan aktivitas kebudayaan lainnya. Seluruh sajian ini bertujuan memperkuat pewarisan kebudayaan di masa depan.

Ketua Panitia Rarud Batur, Guru Nengah Santika, menambahkan, peringatan puncak Rarud Batur akan dilaksanakan Agustus 2026 mendatang. Momen ini menyesuaikan catatan sejarah letusan dahsyat Gunung Batur pada 3 Agustus 1926 yang melahap permukiman kuno.

“Pengungsian dilakukan sejak 4 Agustus 1926, di mana pratima dan pralingga sempat distanakan di Desa Bayung Gede selama dua tahun,” jelas Santika.

Masyarakat baru resmi bermukim di lokasi saat ini pada 1928, diikuti pembangunan fasilitas termasuk Pura Ulun Danu Batur. Berdasarkan catatan Rajapurana Batur, pura tersebut akhirnya diplaspas pada April 1935 sebagai tanda dimulainya kehidupan baru. gia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses