Minim Fasilitas, Pendaftar di SMPN Satap 1 Kintamani Membeludak

KEPALA SMPN Satap 1 Kintamani, I Wayan Kumpul. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, BANGLI – Pendaftar SMPN Satap 1 Kintamani di Banjar Kayuselem, Desa Songan, Kintamani sebelumnya relatif minim. Kini, dalam proses SPMB tahun 2025, jumlah siswa yang mendaftar di sekolah yang berada di balik bukit ini membeludak, tercatat sebanyak 42 orang.

Melonjaknya jumlah siswa baru yang mendaftar di sekolah ini memunculkan permasalahan baru. Jumlah ruang kelas yang dimiliki sangat minim, itulah masalahnya. Karena kondisi itu pula pihak sekolah berharap uluran tangan pemerintah, untuk membantu kelengkapan sarana dan prasarana yang diperlukan. Jadi, siswa nanti bisa belajar dengan nyaman.

Read More

Kepala SMPN Satap 1 Kintamani, I Wayan Kumpul, Senin (7/7/2025) mengakui kondisi sekolahnya yang masih minim fasilitas penunjang. Dia berujar, data terakhir menunjukkan jumlah siswa yang mendaftar sebanyak 42 orang, dan ini didaku sangat membanggakan.

“Membeludaknya jumlah siswa yang ingin menempuh pendidikan di SMPN Satap 1 Kintamani, selain kemungkinan disebabkan sistem penerimaan murid baru dengan pola baru, juga dipicu tingkat kepercayaan masyarakat yang makin tinggi,” katanya.

Kumpul menyebutkan, kepercayaan masyarakat terhadap proses pembelajaran di sekolah yang berlokasi dekat dengan Pura Pasek Kayuselem ini, dari waktu ke waktu mengalami peningkatan.

Keadaan itu dipandang tidak terlepas dari komitmen para guru yang ditugaskan di sekolah ini. ”Guru-guru kami mampu bersaing dengan guru di sekolah lain, di tengah berbagai keterbatasan yang kami miliki,” tegas Kumpul.

Terkait sarana-prasarana yang ada, dia mengaku waswas. SMPN Satap 1 Kintamani selama ini memang sangat identik dengan sekolah pinggiran. Sarana-prasarana yang dimiliki sangat terbatas. Mulai dari ruang belajar yang belum memadai, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, hingga sarana penunjang lain seperti ketersediaan perpustakaan, ruang laboratorium.

Meski diberi kekhususan, tapi dia tetap merasa waswas dengan jumlah ruang belajar yang dimiliki. Jika kondisi ini tidak segera diperbaiki, maka antusiasme warga untuk menyekolahkan anaknya akan menurun.

“Untuk itu kami sangat berharap kepada Pemkab Bangli untuk memperhatikan kondisi sekolah yang ada di pinggiran. Kami sangat bangsa antusiasnya masyarakat untuk menyekolahkan anaknya wajib belajar sembilan tahun,” pungkasnya. gia

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.