PENGGALANGAN dukungan dari para kader untuk Musda Partai Golkar Bali, yang dijadwalkan pada 23 Mei nanti, kencang digarap kandidat yang akan maju sebagai Ketua DPD Partai Golkar Bali periode 2025-2030. Gde Sumarjaya Linggih disebut-sebut sedang di atas angin, berhubung sebagian besar pemilik hak suara berlabuh kepadanya. Bagaimana dia akan mengelola partai jika dipercaya peserta Musda kelak? Bagaimana posisi Golkar atas PDIP yang berkuasa di eksekutif dan legislatif? Apa dilakukan untuk mengikis rivalitas dengan kubu Ketua petahana, Sugawa Korry? Berikut petikan wawancara wartawan POS BALI, Gus Hendra, dengan politisi yang akrab disapa Demer tersebut, Senin (19/5/2025).
Saat ini isu waktunya generasi muda di depan jadi fokus banyak partai, tapi menjelang Musda ini justru kader generasi baby boomer seperti Anda yang menonjol. Bagaimana Anda melihat itu?
Setiap masa ada orang, dan setiap orang ada masanya. Ini perlu dipahami. Tentu kami akan terus meningkatkan kaderisasi. Golkar akan mengembangkan Golkar Institute di Bali. Dengan begitu Gen Z itu tidak cuek terhadap politik, mereka kita ajak melek politik. Untuk generasi baby boomer ya harus menyiapkan diri untuk pensiun (berpolitik). Gen Z ini kita siapkan lewat pendidikan politik atau Golkar Institute. Golkar ini partai terbuka dan demokratis.
Contohnya apa bahwa Golkar demokratis?
Ya misalnya Musda nanti, tidak ada ditetapkan dari pusat. Berjalannya Musda mesti memperhatikan arus bawah.
Apa skenario atau berapa persentase untuk ekuilibrium antara yang muda dengan yang senior dalam bayangan Anda?
Yang senior 30%, 40% Gen Z, dan 30% bener-bener muda dalam komposisi kepengurusan.
Sudah ada bayangan bagaimana “kabinet” nanti?
Sudah dong. Sudah ada perencanaan menang kalau sudah maju (sebagai kandidat). Rencana program juga sudah ada.
Anda dekat secara pribadi dengan Pak Koster yang Ketua PDIP Bali. Apakah nanti Golkar di Bali akan mengambil posisi sebagai rival, atau mitra tapi kritis atas PDIP, seperti dilakukan PDIP di pusat?
Kami akan berposisi kritis, objektif, dan proporsional. Itu napas sebenarnya dari Golkar. Bisa dibilang sebagai warga negara yang baik mestinya melakukan sikap itu juga. Maksudnya begini. Jika pemerintah baik, didukung. Jika melenceng, dikritisi. Proporsional berarti kita mendudukkan persoalan di posisinya, jangan digeneralisasi. Kalah salah ya salah, kalau benar ya benar demi kepentingan rakyat. Acuannya adalah pertumbuhan ekonomi yang baik.
Golkar biasanya menerapkan politik akomodatif. Mengingat ada riwayat rivalitas, apa nanti akan menerapkan politik akomodatif dengan kubu Sugawa Korry?
Kalau kader lama itu ada rekam jejaknya semua. Yang mendukung saya juga tahu mana yang bisa diakomodir, atau yang mana justru memberatkan partai berkembang. Catatan sejarahnya terekam semua di era sekarang, karena komunikasi terbuka dan tertutup sangat cepat. Dan, ini memudahkan penilaian.
Kok indikatornya sepertinya tidak akomodatif?
Ya Pak Sugawa sudah pernah Ketua. (Kalau diajak) paling jadi penasihat partai. Namanya nasihat, bisa dipakai, bisa juga tidak nasihatnya.
Orang mendukung biasanya ada kesepakatan awal dengan yang didukung. Apa yang Anda tawarkan kepada pendukung pra-Musda ini?
Tidak mesti ada yang ditawarkan. Cuma menawarkan program ke depan, tentu perbaikan manajemen partai, antara lain keterbukaan. Misalnya soal keuangan. Juga pemberdayaan kepada masyarakat, baik sosial maupun pelatihan untuk edukasi, juga menyerap aspirasi. Bisa jadi (dukungan itu) karena mereka percaya saya mau dan mampu melaksanakan. Mungkin juga karena melihat rekam jejak selama ini. Saya sudah beberapa kali membersamai mereka dalam hajatan politik.
Golkar sekarang melorot ke posisi 3 di DPRD Bali, disalip Gerindra. Bagaimana cara Anda mengembalikan kejayaan Golkar?
Setiap partai ingin menang. Tidak dengan menjelekkan orang lain, tapi bagaimana meningkatkan kualitas sendiri. Itu terpenting. Kalau tidak elegan, nanti kena karma (tertawa).
Apa menurut Anda tantangan terbesar Golkar Bali saat ini?
Pilkada 2029. Kalau manajemen bagus dan terbuka, kebebasan berpendapat, tarung ide dan gagasan akan dibiasakan di Golkar, ini akan menarik Gen Z yang penuh jiwa merdeka. Kita akan biasakan mengatur persaingan, sehingga apa pun kritik tajam akan berakhir dan dijamin ada titik temu. Tentu selama kritik itu adu ide dan gagasan, bukan caci maki, apalagi personal.
Apa Anda ingin bilang selama ini minim tarung gagasan di Golkar Bali?
Ya minim. Buktinya sampai kami di DPP Jakarta harus menyelesaikan konflik (penyusunan DCS) di Bali. DPP harus dua minggu selesaikan itu.
Anda sudah 5 periode di DPR RI. Apa tetap bertahan ke Senayan untuk 2029 nanti, atau menyerahkan ke orang lain, atau anak sendiri?
Lihat nanti. Sebab, sekarang kalau dipercaya dan aturan memungkinkan, tentu salah kalau tidak menjalankan kepercayaan orang. Saya tahu ukur diri, percayalah itu.(*)























