POSMERDEKA.COM, GIANYAR – Hujan deras disertai angin kencang yang melanda wilayah Kecamatan Ubud dalam beberapa hari terakhir, memicu terjadinya tanah longsor di Pura Kelembu, Desa Adat Mas, Banjar Satria, Desa Mas, Kecamatan Ubud, Selasa (24/2/2026). Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, tiga bangunan suci di areal pura mengalami kerusakan cukup parah, dengan taksiran kerugian material mencapai Rp500 juta.
Kapolsek Ubud, Kompol I Wayan Putra Antara, saat dikonfirmasi membenarkan adanya kejadian tersebut. Dia menjelaskan, longsor dipicu kondisi tanah yang labil akibat curah hujan tinggi yang mengguyur kawasan tersebut, sejak beberapa hari terakhir. “Tidak ada korban jiwa, tapi tiga bangunan terdampak cukup parah,” ujarnya.
Bangunan yang rusak yakni Piyasan, Bale Gong, serta Bale Penyimpanan Banten. Ketiganya tertimpa reruntuhan senderan tembok sisi selatan pura yang ambrol akibat tergerus tanah longsor.
Salah seorang saksi, I Kadek Mertha (43), warga Banjar Tarukan, Desa Mas, menuturkan, peristiwa itu terjadi saat hujan masih mengguyur cukup deras disertai angin kencang. “Sejak subuh hujan deras dan angin cukup kencang. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah tembok selatan pura,” ungkapnya.
Pascakejadian, pihak kepolisian langsung berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Gianyar untuk melakukan penanganan lebih lanjut. Namun, hingga siang hari, proses pembersihan material longsor belum dapat dilakukan, karena cuaca masih hujan dan angin kencang, sehingga berisiko bagi keselamatan petugas. “Pembersihan belum bisa dilakukan karena cuaca masih tidak bersahabat,” tegas Kapolsek.
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, aparat kepolisian bersama perangkat desa setempat mengamankan area sekitar lokasi longsor, dan mengimbau masyarakat agar tidak mendekat. Mengingat kondisi tanah masih labil, potensi longsor susulan masih mungkin terjadi. Kapolsek juga mengingatkan masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar tebing dan lereng, agar meningkatkan kewaspadaan selama musim hujan.
Peristiwa ini diperkirakan turut mengganggu aktivitas keagamaan di Pura Kelembu untuk sementara waktu, hingga proses pembersihan dan perbaikan bangunan rampung dilakukan. Masyarakat adat pun diharap dapat bersinergi bersama pemerintah dalam upaya pemulihan pascabencana tersebut. adi























