Lombok Dikepung Banjir Bandang, DPRD NTB Minta Gubernur Tertibkan Izin Vila

  • Whatsapp
Ridwan Hidayat. Foto: rul
Ridwan Hidayat. Foto: rul

MATARAM – Ketua Komisi II DPRD NTB, Ridwan Hidayat; minta Gubernur NTB, Zulkieflimansyah, segera menegur para bupati dan wali kota di NTB terkait mudahnya izin lahan perbukitan berubah fungsi menjadi kawasan vila mewah. Padahal lahan perbukitan merupakan daerah resapan air. Perubahan perbukitan menjadi vila mewah di kawasan Gunungsari dan Batulayar dituding menjadi pemicu banjir bandang di wilayah itu, Senin (6/12/2021).

Ridwan memandang Pemprov perlu tegas dalam persetujuan setiap perda RTRW kabupaten/kota di NTB. Apalagi jika perencanaan tersebut tanpa memasukkan klausul mitigasi bencana di dalamnya. Dia mengklaim banyak kayu hutan berukuran besar turun bersama aliran banjir bandang, dan kini masuk ke permukiman warga.

Bacaan Lainnya

“Di situlah persetujuan evaluasi perda RTRW kabupaten/kota oleh Provinsi mesti tegas dilakukan. Bila perlu jangan diberikan persetujuan bila itu merusak lingkungan,” seru Ridwan, Selasa (7/12/2021)

Ia mendaku banyak pelanggaran yang terjadi di luar kawasan hutan. Salah satunya terkait bangunan yang berdiri di bukit-bukit di kawasan Batulayar dan Gunungsari. Apalagi dengan kemiringan tertentu, kondisi tersebut berdampak besar terhadap lingkungan. Evaluasi izin vila itu dinilai sangat urgen, karena daerah resapan air sudah berkurang. Begitu hujan di hulu, airnya langsung terjun bebas menguap ke bawah, sehingga masyarakat yang akan dirugikan.

Baca juga :  Lestarikan Alam, Wawali Jaya Negara Lepas 3.000 Bibit Lele dan 75 Burung di Tukad Badung

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB menambahkan, empat jembatan putus dan sebanyak 3.213 keluarga terdampak banjir yang terjadi di beberapa kabupaten/kota. “Itu laporan sementara yang kami terima dari tiga kabupaten/kota yang terdampak banjir cukup parah,” jelas Kepala BPBD NTB, Sahdan, yang dimintai tanggapan secara terpisah.

Empat jembatan yang putus akibat banjir itu yakni jembatan di Desa Lembah Sari, dan jembatan di Desa Meninting, Kabupaten Lombok Barat. Selain itu satu jembatan penghubung Dusun Bentek Induk dengan Dusun Lebah Sari, Kabupaten Lombok Utara; serta jembatan depan terminal baru Kota Bima. Sementara ribuan keluarga yang terdampak banjir tersebar di Kabupaten Lombok Barat sebanyak 923 keluarga, Kabupaten Lombok Utara sebanyak 115 keluarga, dan Kota Bima sebanyak 2.175 keluarga.

Khusus di Kabupaten Lombok Barat, kata Sahdan, terdapat korban jiwa sebanyak lima orang. Satu korban yang sempat hilang sudah ditemukan, tapi tujuh warga mengalami luka-luka akibat banjir bandang disertai tanah longsor di Dusun Batulayar Utara, Desa Batulayar Barat. “Untuk data jumlah rumah yang rusak akibat banjir dan longsor masih dalam proses pendataan,” sambungnya.

Sahdan berujar bersama BPBD kabupaten/kota masih terus melakukan proses evakuasi warga ke tempat yang lebih aman. BPBD NTB, bersama Dinas Sosial NTB serta pemerintah kabupaten/kota juga sudah menyalurkan bantuan makanan siap saji, serta kebutuhan logistik lainnya untuk para korban banjir. “Kami mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap cuaca ekstrem berupa angin kencang dan hujan lebat, yang berpotensi menyebabkan terjadinya banjir, tanah longsor dan angin puting beliung,” pesannya.

Baca juga :  Denpasar Tambah 126 Orang Positif Covid-19, Pasien Sembuh 184

Wilayah lain yang terdampak banjir adalah Kota Mataram, Kabupaten Lombok Tengah; dan Lombok Timur. Hanya, BPBD NTB belum memperoleh data dari masing-masing pemerintah kabupaten/kota terkait dampak yang ditimbulkan akibat bencana alam tersebut. rul

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.