GIANYAR – Sejumlah warga di Gianyar masih memanfaatkan sungai untuk beraktivitas seperti mandi maupun mencuci pakaian. Hal ini terlihat di sejumlah sungai di Gianyar, seperti Tukad Petanu yang membelah Blahbatuh dengan Sukawati.
Berdasarkan pantauan, sejumlah warga tampak tengah menikmati aliran sungai yang jernih. Sejumlah mata air yang juga masih terjaga dimanfaatkan warga untuk air minum. Ada yang mencuci pakaian, ada juga yang berendam.
Setiap harinya puluhan warga hilir mudik mandi di sungai. Bahkan jika hari-hari libur dan ada pemadaman air bergilir, ratusan warga memanfaatkan sungai ini. Selain bersih, akses menuju sungai juga mudah dijangkau.
Salah satu warga yang kebetulan mandi di sungai, Agus Setiyawan, menuturkan, mandi di sungai lebih terasa segar daripada di kamar mandi. Menurutnya, di sungai, selain mandi juga bisa melihat hijaunya pepohonan. Selain itu, bagus juga untuk mengirit biaya air bulanan.
“Biasanya sebelum kerja atau sore saya sempatkan untuk mandi di sini, lumayan deket jaraknya. Air di sini juga masih jernih,” ungkapnya.
Selama ini, sambungnya, belum pernah ada warga yang mengaku gatal-gatal setelah mandi di sungai, meski diakui masih ada sampah dari hulu. “Tidak pernah ada yang gatal-gatal, airnya masih jernih. Tapi kalau untuk air minum kami memanfaatkan air pancorannya,” imbuh Agus.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gianyar, Ni Made Mirnawati, Minggu (23/5/2021) menyebutkan, sungai-sungai di Gianyar sampai saat ini masih layak digunakan. Tidak ada pencemaran terkategori berat. Hanya, dia tidak memungkiri masih ada warga yang sengaja membuang limbah ke sungai.
Sungai yang masih lestari ini, ulasnya, karena di hulu tidak ada industri rumah tangga yang membuang limbah ke sungai secara langsung. “Dari data yang saya pegang, berdasar hasil penelitian tahun 2019, belum ada ditemukan sungai yang tercemar berat,” lugasnya.
Meski layak untuk mandi dan mencuci, dia menyebut air sungai tersebut tidak bisa dikonsumsi langsung. Namun, tambahnya, kondisi air sungai semakin ke hilir semakin kotor. Ini akibat di beberapa permukiman penduduk masih ada sebagian yang membuang sampah ke sungai.
Lebih jauh diutarakan, sebanyak 60 titik sumber mata air di Gianyar telah dilakukan uji lab. Hasilnya, kondisi air masih di ambang baku mutu, tapi ada beberapa sumber mata air yang rawan pencemaran limbah kimia dan bakteri E-coli. “Bukan tercemar, tapi ada potensi tercemar bakteri E-coli, sehingga lingkungan mata air kami pantau. Apa ada peliharaan ternak, atau industri rumah tangga di sekitar tersebut,” bebernya.
Kepada desa dinas dan desa adat, dia mengajak ikut menjaga sumber mata air dan sungai yang ada di wilayahnya. Hal ini, selain bertujuan penyelamatan lingkungan, juga untuk mewariskan sungai dan mata air yang layak kepada generasi berikutnya. “Sampai saat ini, kesadaran warga sudah meningkat. Hanya saja persoalan pembuangan sampah ke sungai masih menghantui kami, ini perlu kesadaran semua pihak,” pesannya. adi
























