Kembali Longsor, Akses Tiga Desa Ditutup

  • Whatsapp
LONGSOR susulan dari tebing Gunung Abang kembali terjadi, Kamis (28/10/2021). Longsor ini mengakibatkan akses menuju tiga desa ditutup. Foto: ist

BANGLI – Sekitar pukul 09.20 Wita di ruas jalan Buahan menuju Trunyan terjadi longsor susulan dari tebing Gunung Abang, Kamis (28/10/2021). Jalan tersebut sekaligus perbatasan Desa Buahan dengan Desa Abang Batudinding, Kecamatan Kintamani. Longsor ini mengakibatkan akses menuju tiga desa ditutup.

Kapolres Bangli, AKBP I Gusti Agung Dhana Aryawan, membenarkan adanya longsor susulan yang cukup besar tersebut. Kata dia, masih untung pada saat kejadian tidak ada warga menerobos lewat di lokasi. “Suara gemuruh dan pergerakan material membuat pengendara yang tadinya hendak menerobos jalan langsung berhenti dan balik kanan,” katanya.

Bacaan Lainnya

Di tempat terpisah, Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Bangli, Ketut Agus Sutapa, juga mengatakan hal senada. Usai gempa dua minggu lalu, sebutnya, memang di lokasi masih sering terjadi pergerakan tanah, yang mengakibatkan material tanah dan bebatuan kerap jatuh. “Kami memang belum merekomendasikan untuk warga lewat, karena kondisi tanah di titik pertama longsor masih labil,” ucapnya.

Terkait longsor tersebut, BPBD Bangli bersama instansi terkait seperti Polri dan TNI, kembali akan melakukan pembersihan material dengan menurunkan alat berat. Saat bekerja, dia mendaku akan sangat berhati-hati dengan kondisi tanah yang masih labil. “Kami kembali memasang blokade jalan agar warga tidak masuk maupun keluar melalui jalan darat,” tegasnya.

Baca juga :  Piodalan di Pura Lempuyang Patuhi Protokol Kesehatan

Masyarakat di tiga desa, yakni Desa Abang Batudinding, Desa Abang Songan, dan Desa Terunyan nekat menerobos blokade jalan di titik pertama longsor. Tindakan ini dilakukan lantaran kesulitan angkutan danau pada jam-jam tertentu, seperti malam hari dan pagi hari.

Adanya warga yang nekat menerobos itu diakui Camat Kintamani, I Wayan Bona. “Aktivitas masyarakat kami di sana cukup padat, anak-anak muda banyak yang bekerja di luar. Saat pulang mereka kesulitan angkutan danau, maka terpaksa melalui jalan darat dengan mengandalkan nasib,” pungkasnya. gia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.