Kasus Positif Covid-19 masih Tinggi, Sekolah Jangan Memaksakan PTM

  • Whatsapp
Ilustrasi. Foto: net
Ilustrasi. Foto: net

DENPASAR – Sudah hampir sepuluh bulan wabah Covid-19 melanda Bali sejak kasus pertama ditemukan pada Maret 2020 lalu. Namun hingga sekarang, kasus terkonfirmasi positif Covid-19 masih terjadi penambahan. Padahal, Maret 2021 digadang-gadang akan dilaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) untuk di Kota Denpasar.

Seperti halnya perkembangan pandemi Covid-19 di Provinsi Bali per Senin (28/12/2020), Satuan Tugas Penganan Covid-19 Provinsi Bali mencatat pertambahan kasus terkonfirmasi positif sebanyak 138 orang. Terdiri dari 127 orang melalui transmisi lokal dan 11 Pelaku Perjalanan Dalam Negeri (PPDN).

Bacaan Lainnya

Kendatipun demikian, pasien sembuh juga meningkat tajam, yaitu sebanyak 131 orang. Sayangnya, pasien meninggal dunia juga bertambah, yakni sebanyak 4 orang. Dengan tambahan tersebut, maka secara kumulatif jumlah kasus terkonfiramasi positif hingga kemarin sebanyak 17.237 orang, sembuh 15.793 orang (91,62%), dan meninggal dunia 508 orang (2,95%).

“Kasus aktif per hari ini (kemarin, red) menjadi 936 orang (5,43%), yang tersebar dalam perawatan di 17 RS rujukan, dan dikarantina di Bapelkesmas, UPT Nyitdah, Wisma Bima, dan BPK Pering,” ungkap Ketua Harian Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Bali, Dewa Made Indra.

Dewa Indra yang juga Sekda Provinsi Bali ini menegaskan, pengendalian dan pencegahan Covid-19 ini adalah tanggung jawab bersama. “Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan semua pihak adalah kunci utamanya. Untuk itu, mari bersama kita terapkan protokol kesehatan kapanpun dan di manapun berada,” tegasnya.

Baca juga :  Menuju Adaptasi Kebiasaan Baru, GTPP Covid-19 Denpasar Ingatkan Protokol Kesehatan

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Provinsi (Kadisdikpora) Bali, IKN Boy Jayawibawa, mengingatkan kepada para sekolah agar jangan memaksakan PTM, jika kasus positif masih naik. Karena risiko sangat riskan. “Jadi jika tidak dizinkan oleh orang tua siswa, maka anak-anak tetap mendapatkan pelajaran secara daring,” jelasnya.

Boy juga mengungkapkan, PTM ini tidak sesederhana penerapan 3M, yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan pakai sabun. Akan tetapi, memerlukan kedisiplinan dan juga penerapan yang sangat ketat dalam menjalankan protokol kesehatan. “Sekolah yang siap saja belum berani. Karena saat simulasi saja sudah berbeda dari prediksi, walaupun sudah dibatasi hingga 18 siswa per kelas, jadi tidak sesederhana itu,” ujarnya.

Boy juga mengingatkan, dalam pentunjuk teknis yang telah dikeluarkan pihaknya, kepala sekolah dan juga komite bertanggungjawab penuh jika terjadi kasus. “Jadi, kepala sekolah dan komite yang mengetahui tentang kegiatan anak-anak yang ada di sekolah ketika PTM,” tandasnya. alt

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.