Karangasem Tambah Dua Pura Berstatus Kahyangan Jagat

  • Whatsapp
PENYERAHAN penghargaan kepada Pura Pesimpenan Baturaya, Desa Adat Tumbu; dan Pura Geria Gili Selang, Desa Adat Seraya, Karangasem, Senin (21/9). Foto: ist
PENYERAHAN penghargaan kepada Pura Pesimpenan Baturaya, Desa Adat Tumbu; dan Pura Geria Gili Selang, Desa Adat Seraya, Karangasem, Senin (21/9). Foto: ist

KARANGASEM – Kabupaten Karangasem dikenal memiliki banyak pura kahyangan jagat. Sebut saja Pura Besakih sebagai pura terbesar di Bali, Pura Lempuyang, Pura Andakasa, Pura Silayukti, Pura Pasar Agung Sebudi, Pura Penataran Agung Nangka, dan banyak pura lainnya. Semua itu menjadikan tanah Karangasem menjadi metaksu (berwibawa).

Hal itu disampaikan Bupati Karangasem, IGA Mas Sumatri, usai menyerahkan penghargaan kepada Pura Pesimpenan Baturaya, Desa Adat Tumbu; dan Pura Geria Gili Selang, Desa Adat Seraya, di Pura Pesimpenan Baturaya, Desa Adat Tumbu, Karangasem, Senin (21/9). Kedua pura ini kini resmi berstatus pura kahyangan jagat.

Bacaan Lainnya

Dalam acara tersebut Mas Sumatri didampingi Kadis Kebudayaan, Kadis Ketenagakerjaan, Kadis Perpustakaan, Kadis Capil, Camat Karangasem,Sekdis Bapelitbangda dan Kabag Kesra. Penghargaan sebagai Pura Kahyangan Jagat di Pura Baturaya diterima I Nyoman Sudana sebagai pemucuk pengempon pura. Sementara penghargaan untuk Pura Geria Gili Selang diterima I Made Salin selaku Bendesa Adat Seraya.

Pengakuan sebagai Pura Kahyangan ini sesuai dengan SK Bupati Karangasem Nomor 286/HK/2020, tanggal 10 September 2020. “Di Kabupaten Karangasem saat ini telah tercatat ada 38 pura kahyangan yang ditetapkan dan diakui oleh Pemerintah Kabupaten Karangasem. Kini ditambah dengan Pura Baturaya dan Pura Geria Gili Selang,” urai Mas Sumatri.

Baca juga :  Rapat KPU Dibatasi Maksimal Satu Jam

Dia berpesan, setelah ditetapkan sebagai Pura Kahyangan Jagat, pengurus Pura Pesimpenan Baturaya dan Pura Geria Gili Selang diminta memelihara keberadaan pura dengan sebaik mungkin. Melaksanakan setiap rangkaian upacara dengan baik sesuai dresta, dan agama mesti tetap terjaga. “Mari kita bersama-sama, pemerintah ataupun pengempon pura, menyatukan tujuan, seiring selangkah menyukseskan setiap rangkaian ritual dan upacara di pura ini agar berjalan dengan lancar,” ajaknya. 017

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.