Jro Sudibya Lantunkan Sloka, Dua Perempuan “Kerauhan”

PETUGAS keamanan membopong salah satu peserta di wantilan DPRD Bali yang mengalami “kerauhan” di sela-sela audiensi dengan Pansus TRAP, Rabu (3/6/2026). Foto: ist
PETUGAS keamanan membopong salah satu peserta di wantilan DPRD Bali yang mengalami “kerauhan” di sela-sela audiensi dengan Pansus TRAP, Rabu (3/6/2026). Foto: ist

SETELAH Ketua For Hati Bali, Ketut Saitanjung, menyerahkan aspirasi kepada Made Suparta selaku Ketua Pansus TRAP, Jro Gde Sudibya yang berdiri di sebelah Suparta melantunkan sloka berbahasa Sanskerta, Rabu (3/6/2026). Entah ada hubungan atau tidak, beberapa saat kemudian seorang perempuan yang duduk di tangga terbawah wantilan DPRD Bali itu menjerit. Tubuhnya lalu lunglai dan dia mulai menangis sesenggukan. Beberapa peserta berusaha menenangkan, termasuk dua sulinggih yang duduk di sebelahnya.

Kegaduhan itu sempat membuat audiensi dihentikan sejenak. Seorang staf DPRD Bali tergopoh-gopoh membawakan dupa untuk dinyalakan, karena sepertinya upakara di atas meja anggota Pansus TRAP belum diisi dupa menyala. “Ini bagaimana sih ngga ada dupanya,” gerutu anggota Pansus, I Dewa Nyoman Rai, kepada staf DPRD.

Read More

Lantaran lama tidak sadarkan diri meski ditenangkan, seorang peserta lalu menggendong perempuan tadi ke sisi timur wantilan. Hanya, berhubung masih juga belum sadar dan masih menangis sembari agak meronta, perempuan berpakaian hitam dan berambut panjang itu diungsikan dengan dibopong anggota Polri dan TNI AD ke belakang panggung untuk ditenangkan. Anggota Pansus, Oka Antara, terlihat turut membantu menyadarkan. Tetapi karena masih belum pulih sepenuhnya, perempuan itu diungsikan ke ruang lain.

“Ya, ini tanda bahwa Bali itu tenget (sakral). Vibrasi orang-orang suci yang datang ke sini getarannya kuat, makanya sampai ada yang begitu,” ucap Suparta dengan ekspresi lelah dan agak bingung. Gegara insiden itu, acara sempat diskors sekira 20 menit. Namun, belum selesai perempuan tadi sadar, seorang perempuan peserta audiensi juga sempat berteriak histeris, tapi buru-buru ditenangkan rekan di sebelahnya.

Di sela-sela kegiatan, seorang aparat keamanan berpakaian preman menuturkan kemungkinan perempuan tadi kelelahan fisik atau ada masalah pikiran. “Tadi di dalam (Ruang Konsultasi) dia sudah sadar, baik-baik saja. Mungkin karena lagi ada masalah pikiran di rumah atau di mana, tapi munculnya saat acara tadi,” kisahnya sembari berlalu. hen

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.