Jadi Komoditi Bantuan Sembako, Harga Telur Ayam Naik

File: AYAM PETELUR PETERNAK ayam petelur di Susut, Bangli. Foto: gia
File: AYAM PETELUR PETERNAK ayam petelur di Susut, Bangli. Foto: gia

BANGLI – Harga telur ayam ras di Kabupaten Bangli berangsur-angsur mengalami peningkatan harga. Sesuai hukum pasar, peningkatan harga itu terjadi lantaran adanya peningkatan permintaan telur. Pasalnya, telur banyak dicari untuk kegiatan bagi-bagi sembako kepada warga terkena dampak virus Corona.

Seperti disampaikan Wayan Eka, salah seorang peternak ayamasal Tanggahan Tengah, mengakui, kalau harga telur sejak sepekan menunjukan tren naik dari harga Rp40 ribu hingga Rp43 ribu per krat. ‘’Harga telur belakangan menunjukan tren naik,’’ ucapnya.
Menurut dia, kenaikan harga telur ini diakibatkan oleh sejumlah faktor. Paling utama adalah karena adanya penurunan populasi dari para peternak, mengingat saat awal pandemi Covid-19 di Bali, banyak peternak yang mengurangi populasi. ‘’Banyak peternak mengurangi populasi. Ayamnya banyak diafkir lebih awal, mereka (peternak) khawatir pasokan pakan terhambat dari luar pulau,’’ jelasnya.

Bacaan Lainnya

Selain itu, kenaikan harga juga dipicu lantaran permintaan telur di masyarakat naik, ditambah gencarnya pembagian paket sembako oleh pemerintah yang berpengaruh terhadap tingginya pemintaan telur di pasaran. ‘’Produksi telur belakangan ini juga agak turun, lantaran dampak cuaca dingin,’’ imbuhnya.

Hal serupa juga diakui peternak lainnya, Kadek Budiartawan asal Banjar Buungan, Desa Tiga, Kecamatan Susut. Disebutkan, harga telur belakangan ini memang cukup bagus, ketimbang saat pandemi Covid-19 baru merebak di Bali. Dimana, saat itu harga telur sempat nyungsep sehingga banyak peternak yang kurangi populasi.

‘’Syukur sejak beberapa pekan ini harga telur melonjak hingga menembus angka Rp 40 ribu hingga 43 ribu per krat untuk telur ukuran besar,” ujarnya

Lebih lanjut disampaikan Budiartawan, kenaikan harga telur selain naiknya permintaan pasar lokal, juga ditambah dengan meningkatnya permintaan telur dari NTB dan NTT. Mengingat telur produksi peternak di Bali banyak yang dipasarkan ke daerah tersebut. Namun belakangan ini telur asal Jawa masuk ke sana, akibatnya permintaan sejak beberapa hari ini alami penurunan. “Kita saat ini kewalahan melayani pesanan, apalagi sekarang masih ada yang memerlukan untuk sembako,’’ pungkasya. 028

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses