”Transisi dari Peradaban Eksploitasi Menuju Peradaban Dharma”
Oleh: Dr. I Ketut Suardana
INDONESIA sedang berada dalam sebuah masa transisi. Transisi bukan sekadar perubahan pemerintahan, perubahan teknologi, perubahan ekonomi, atau perubahan generasi. Transisi yang lebih dalam adalah perubahan kesadaran tentang siapa kita, ke mana kita bergerak, dan untuk apa pembangunan dilakukan.
Indonesia telah berhasil membangun banyak hal. Jalan dibangun. Kota berkembang. Infrastruktur diperluas. Teknologi digital memasuki hampir seluruh ruang kehidupan. Ekonomi bergerak menuju industrialisasi dan hilirisasi. Artificial Intelligence mulai mengubah cara manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, dan mengambil keputusan.
Namun di balik kemajuan tersebut muncul pertanyaan yang lebih mendasar: Apakah kemajuan material otomatis membuat sebuah bangsa menjadi lebih beradab?
Pertanyaan ini penting karena sebuah negara dapat menjadi semakin kuat secara ekonomi, tetapi belum tentu semakin kuat secara moral. Sebuah masyarakat dapat menjadi semakin digital, tetapi belum tentu semakin bijaksana. Sebuah pemerintahan dapat memiliki teknologi yang semakin canggih, tetapi belum tentu memiliki rasa terhadap manusia yang dilayaninya.
Karena itu, Indonesia hari ini tidak hanya membutuhkan pembangunan. Indonesia membutuhkan arah peradaban. Dan arah itu membutuhkan sesuatu yang lebih dalam daripada kebijakan. Ia membutuhkan jiwa.
Indonesia Bukan Sedang Gagal, tetapi Sedang Berubah
Melihat Indonesia hanya melalui kacamata krisis akan menghasilkan pesimisme. Melihat Indonesia hanya melalui angka pertumbuhan juga dapat menghasilkan optimisme yang terlalu sederhana. Indonesia sesungguhnya sedang mengalami perubahan struktural yang sangat besar.
Dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri. Dari ekonomi berbasis sumber daya menuju ekonomi berbasis pengetahuan. Dari masyarakat analog menuju masyarakat digital. Dari teknologi informasi menuju Artificial Intelligence. Dari pemerintahan administratif menuju pemerintahan berbasis data.
Perubahan ini membuka kesempatan luar biasa. Tetapi setiap perubahan besar selalu membawa pertanyaan: Apakah kesadaran manusia berkembang secepat teknologi yang diciptakannya?
Jika teknologi berkembang lebih cepat daripada kebijaksanaan, maka teknologi dapat menjadi kekuatan tanpa arah. Jika ekonomi berkembang lebih cepat daripada etika, maka pertumbuhan dapat menghasilkan ketimpangan. Jika pembangunan berkembang lebih cepat daripada kesadaran ekologis, maka pembangunan dapat menghancurkan fondasi kehidupan itu sendiri.
Maka persoalan Indonesia bukan sekadar berapa cepat kita tumbuh, tetapi: untuk apa kita tumbuh?
Dari Negara Pembangunan Menuju Negara Berkesadaran
Selama beberapa dekade, pembangunan Indonesia sangat banyak diukur melalui indikator ekonomi dan material. Pertumbuhan ekonomi, investasi, infrastruktur, industrialisasi, ekspor, produktivitas. Semua itu penting, tetapi semua itu hanyalah instrumen. Tujuan akhirnya seharusnya adalah manusia.
Pembangunan seharusnya menjawab: Apakah manusia hidup lebih bermartabat?, apakah masyarakat memperoleh kesempatan yang lebih adil?, apakah anak-anak memperoleh pendidikan yang lebih baik?, apakah desa memiliki masa depan?, apakah kebudayaan tetap hidup?, apakah alam tetap mampu menopang generasi berikutnya?
Karena itu kita perlu bergerak: Economic Growth menuju Human Prosperity dan akhirnya menuju Community Prosperity. Inilah perubahan paradigma yang penting.
Ketika Kemajuan Kehilangan Jiwa
Salah satu bahaya terbesar peradaban modern adalah ketika manusia terlalu sibuk membangun alat, tetapi lupa membangun kesadaran. Kita membangun kota, tetapi apakah kita membangun komunitas? Kita membangun jalan, tetapi apakah kita membangun hubungan antarmanusia?
Kita membangun pusat data, tetapi apakah kita membangun kebijaksanaan? Kita mengembangkan Artificial Intelligence, tetapi apakah kita mengembangkan Human Intelligence yang berkesadaran?
Pertanyaan tersebut membawa kita kepada persoalan yang lebih dalam: Apa sebenarnya jiwa sebuah peradaban? Jiwa peradaban bukan gedung. Bukan jalan. Bukan teknologi. Bukan GDP. Jiwa peradaban adalah nilai yang menentukan bagaimana manusia menggunakan semua kekuatan tersebut.
Nusantara dan Ingatan Kebijaksanaan
Untuk memahami masa depan, Indonesia tidak harus kembali ke masa lalu. Tetapi Indonesia perlu mengingat kembali kebijaksanaan yang pernah hidup dalam sejarahnya.
Mataram Kuno, Sriwijaya, dan Majapahit merupakan contoh peradaban Nusantara yang mempunyai sistem sosial, ekonomi, politik, keagamaan, dan kebudayaan yang saling berhubungan.
Mataram berkembang melalui kehidupan agraris, tanah, air, pertanian, desa, dan institusi keagamaan. Sriwijaya berkembang melalui laut, perdagangan, pelabuhan, jaringan pengetahuan, dan hubungan antarkawasan. Majapahit membangun jaringan politik, ekonomi, kebudayaan, dan kehidupan agraris-maritim dalam wilayah Nusantara yang luas.
Tentu kita tidak boleh meromantisasi masa lalu. Masyarakat masa lalu juga memiliki hierarki, konflik, ketimpangan, perebutan sumber daya, dan keterbatasan. Tetapi ada sesuatu yang penting untuk dipelajari: kehidupan manusia tidak dipisahkan secara tajam dari lingkungan, kebudayaan, komunitas, dan nilai spiritual. Itulah salah satu kekayaan kebijaksanaan Nusantara.
Ancient Wisdom untuk Modern Government
Indonesia tidak membutuhkan pilihan antara tradisi dan modernitas. Yang dibutuhkan adalah dialog antara keduanya. Modern Government memberikan: hukum institusi demokrasi teknologi data birokrasi akuntabilitas. Ancient Wisdom memberikan: nilai tanggung jawab keseimbangan penghormatan terhadap kehidupan kebijaksanaan.
Jika modern government berjalan tanpa wisdom, pemerintahan dapat menjadi terlalu administratif. Jika wisdom berjalan tanpa institusi modern, ia dapat menjadi idealisme tanpa kemampuan implementasi.
Maka keduanya harus dipertemukan. Modern Government memberikan tubuh. Ancient Wisdom memberikan jiwa. Dan ketika keduanya bertemu dengan kesadaran manusia, lahirlah gagasan: Dharma Governance.
Citta–Rasa–Karsa: Kesadaran bagi Pemerintahan
Di sinilah konsep Citta–Rasa–Karsa menjadi penting. Citta adalah kesadaran, pengetahuan, kemampuan melihat realitas. Rasa adalah empati, kepekaan, kemampuan merasakan kehidupan manusia dan alam.
Karsa adalah kehendak untuk bertindak dan mewujudkan nilai dalam kehidupan nyata. Maka pemerintahan yang berkesadaran membutuhkan ketiganya. Citta mengetahui. Rasa memahami. Karsa mewujudkan.
Citta tanpa Rasa dapat melahirkan kebijakan yang dingin. Rasa tanpa Karsa dapat menjadi belas kasih tanpa perubahan. Karsa tanpa Citta dan Rasa dapat berubah menjadi ambisi kekuasaan. Tetapi: Citta Rasa Karsa = Kesadaran yang menjadi tindakan. Inilah salah satu fondasi filosofis Dharma Governance.
Dharma: Mengubah Makna Kekuasaan
Dalam perspektif Dharma, kekuasaan tidak semata-mata merupakan hak untuk memerintah. Kekuasaan adalah amanah. Semakin besar kekuasaan, semakin besar tanggung jawab.
Karena itu pertanyaan seorang pemimpin bukan hanya: “Apa yang dapat saya lakukan?” Tetapi: “Apa yang seharusnya saya lakukan?”
Perbedaan antara kedua pertanyaan tersebut adalah perbedaan antara power dan wisdom. Power bertanya: Can I? Wisdom bertanya: Should I? Dharma bertanya lebih jauh: Apakah tindakan saya membawa kehidupan menuju kebaikan bersama?
Dengan demikian: Kekuasaan bukan untuk menguasai kehidupan. Kekuasaan adalah amanah untuk menjaga kehidupan.
Dari Peradaban Eksploitasi Menuju Peradaban Dharma
Peradaban modern dibangun dengan kemampuan luar biasa untuk mengubah alam. Hutan menjadi lahan. Tanah menjadi properti. Mineral menjadi industri. Budaya menjadi komoditas. Manusia menjadi tenaga kerja. Data menjadi aset.
Perhatian manusia menjadi komoditas digital. Inilah wajah Peradaban Eksploitasi. Persoalannya bukan pembangunan itu sendiri. Persoalannya adalah ketika segala sesuatu hanya dinilai berdasarkan nilai ekonominya.
Peradaban Dharma menawarkan perubahan paradigma. Alam bukan sekadar sumber daya. Alam adalah sumber kehidupan. Manusia bukan sekadar tenaga kerja. Manusia adalah pemilik martabat.
Budaya bukan sekadar komoditas. Budaya adalah memori dan jiwa masyarakat. Tanah bukan sekadar aset. Tanah adalah amanah bagi generasi.
Teknologi bukan tujuan. Teknologi adalah alat untuk meningkatkan kualitas kehidupan.
Dengan demikian: Eksploitasi → Relasi, Konsumsi → Kesadaran, Pertumbuhan → Kesejahteraan, Power → Responsibility, Government → Governance, Economic Growth → Community Prosperity. Inilah arah transformasi peradaban.
Indonesia 2045: Negara Besar atau Peradaban Besar?
Indonesia memiliki ambisi besar menuju Indonesia Emas 2045. Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendalam daripada sekadar menjadi negara dengan ekonomi besar. Apakah Indonesia ingin menjadi negara besar atau peradaban besar?
Negara besar membutuhkan: ekonomi besar, populasi besar, teknologi besar, militer kuat, infrastruktur besar, dan pengaruh geopolitik. Tetapi peradaban besar membutuhkan sesuatu yang berbeda: jiwa.
Sebuah bangsa dapat memiliki kekuatan ekonomi tetapi kehilangan makna. Dapat memiliki teknologi tetapi kehilangan arah. Dapat memiliki kekuasaan tetapi kehilangan kebijaksanaan. Karena itu Indonesia 2045 seharusnya tidak hanya menjadi: High Growth Nation. tetapi: High Wisdom Civilization.
Pemerintahan Masa Depan: Smart Government Menuju Wise Government
Pemerintahan masa depan akan semakin menggunakan: Artificial Intelligence, big data, digital government, automated services, predictive analytics, dan teknologi baru.
Tetapi teknologi tidak boleh menggantikan kebijaksanaan manusia. Karena itu kita perlu bergerak dari: Smart Government menuju: Wise Government.
Smart Government bertanya: “Bagaimana membuat pemerintahan lebih cepat dan efisien?” Wise Government bertanya: “Untuk apa efisiensi itu digunakan dan siapa yang memperoleh manfaatnya?”
Smart Government menggunakan data. Wise Government memahami manusia di balik data. Smart Government mengoptimalkan sistem. Wise Government menjaga kehidupan.
Indonesia Membutuhkan Jiwa Peradaban
Maka persoalan Indonesia hari ini bukan hanya persoalan ekonomi. Bukan hanya politik. Bukan hanya teknologi. Bukan hanya lingkungan. Bukan hanya pendidikan. Semua itu adalah bagian dari persoalan yang lebih besar: Persoalan kesadaran peradaban.
Indonesia membutuhkan jiwa yang mampu menyatukan: modernitas dan tradisi, teknologi dan kebijaksanaan, ekonomi dan kemanusiaan, pembangunan dan kelestarian, negara dan masyarakat, hak dan tanggung jawab, kebebasan dan Dharma.Inilah yang saya sebut sebagai Jiwa Peradaban Indonesia.
Forward to the Roots: Maju dengan Akar
Masa depan Indonesia tidak berarti meninggalkan masa lalu. Sebaliknya: Semakin tinggi pohon tumbuh, semakin dalam akarnya harus menghunjam.
Indonesia harus maju. Tetapi maju dengan akar. Maju dengan identitas. Maju dengan Pancasila. Maju dengan kebudayaan Nusantara. Maju dengan ilmu pengetahuan. Maju dengan teknologi. Maju dengan Dharma.
Karena bangsa yang kehilangan akar akan mudah kehilangan arah. Maka kita tidak perlu memilih: Tradisi atau modernitas. Kita membutuhkan: Tradisi yang hidup dalam modernitas. Dan kita tidak perlu memilih: teknologi atau spiritualitas. Kita membutuhkan: Teknologi yang dibimbing oleh kesadaran.
Dari Indonesia Modern Menuju Peradaban Dharma
Pada akhirnya, Indonesia sedang menghadapi pilihan yang sangat menentukan. Kita dapat melanjutkan pembangunan dengan paradigma lama: lebih banyak produksi, lebih banyak konsumsi, lebih banyak eksploitasi, lebih banyak kompetisi.
Atau kita dapat mulai membangun paradigma baru: lebih banyak kesadaran, lebih banyak empati, lebih banyak tanggung jawab, lebih banyak kebersamaan.
Perubahan tersebut bukan berarti menolak kapitalisme, teknologi, pasar, industri, atau modernitas. Yang perlu diubah adalah kesadaran yang mengendalikan semuanya.
Ekonomi tetap diperlukan. Teknologi tetap diperlukan. Investasi tetap diperlukan. Pemerintah tetap diperlukan.
Tetapi semuanya harus ditempatkan dalam tujuan yang lebih tinggi: kehidupan yang bermartabat, masyarakat yang sejahtera, budaya yang hidup, alam yang terjaga, dan masa depan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Itulah esensi Community Prosperity.
Indonesia Sedang Mencari Dirinya
Indonesia tidak sedang mencari masa lalu. Indonesia sedang mencari masa depannya. Tetapi masa depan tanpa akar dapat kehilangan arah.Karena itu perjalanan Indonesia bukan sekadar perjalanan menuju negara maju. Ini adalah perjalanan menuju bangsa yang sadar akan dirinya sendiri.
Kita membutuhkan ekonomi, tetapi ekonomi yang memiliki rasa. Kita membutuhkan teknologi, tetapi teknologi yang memiliki etika. Kita membutuhkan pemerintahan, tetapi pemerintahan yang memiliki kesadaran. Kita membutuhkan pembangunan, tetapi pembangunan yang menghormati kehidupan.
Kita membutuhkan kekuasaan, tetapi kekuasaan yang memahami dirinya sebagai amanah. Dan kita membutuhkan masa depan, tetapi masa depan yang tidak kehilangan jiwa.
Mungkin inilah pertanyaan terbesar Indonesia pada masa transisi ini: Bukan hanya: “Indonesia akan menjadi apa?” Tetapi: “Indonesia ingin menjadi peradaban seperti apa?”
Jawabannya tidak hanya berada di istana. Tidak hanya berada di parlemen. Tidak hanya berada di kampus. Tidak hanya berada di pasar. Jawabannya berada dalam kesadaran setiap manusia Indonesia.
Sebab peradaban pada akhirnya bukan hanya dibangun oleh gedung, teknologi, ekonomi, atau kekuasaan. Peradaban dibangun oleh kesadaran manusia yang menggunakannya. Dan karena itu: Indonesia tidak sedang kekurangan kemampuan untuk membangun.
Indonesia sedang mencari kebijaksanaan untuk menentukan apa yang layak dibangun, untuk siapa pembangunan dilakukan, apa yang harus dijaga, dan nilai apa yang harus diwariskan.
Inilah perjalanan dari Peradaban Eksploitasi menuju Peradaban Dharma. Inilah perjalanan Indonesia mencari Jiwa Peradabannya. Citta mengetahui. Rasa memahami. Karsa mewujudkan. Dharma mengarahkan. Dan di sanalah masa depan Indonesia menemukan jiwanya. (*)
























