POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Hasil riset dan pemetaan pemilih dinilai tidak berdiri sendiri dalam menentukan perolehan suara partai politik di lapangan. Di sisi lain, partisipasi masyarakat dalam politik elektoral juga dipengaruhi seberapa mampu kandidat politik mampu memberi harapan kepada konstituen. Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, saat memberikan materi Bimbingan Teknis Anggota Fraksi Partai Golkar DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali di Hotel Aston, Denpasar, Minggu (6/9/2026).
Menurutnya, fenomena keterlibatan pemilih sangat bergantung pada ketersediaan harapan. Tanpa adanya harapan yang ditawarkan, masyarakat cenderung enggan menggunakan hak pilihnya. Oleh karena itu, membangun dan merawat harapan menjadi kunci utama dalam menjaga kepercayaan publik. “Sikap apatis muncul justru ketika harapan tersebut tidak lagi dirasakan masyarakat,” terangnya.
Lebih jauh disampaikan, praktik vote buying atau membeli suara menjadi salah satu faktor kuat yang memicu perbedaan antara hasil survei dan realisasi suara pada pemilu. Dia menekankan perbedaan hasil survei bukan berarti metodologi lembaga riset salah, melainkan ada dinamika pergerakan massa atau peristiwa khusus di akhir masa kampanye. Keakuratan dalam membaca peta politik, demografi sampel yang representatif menjadi syarat mutlak agar hasil survei benar-benar mencerminkan kondisi riil di lapangan.
“Jangan sampai sampling intelektual 20% misalnya, sedangkan demografi penduduk dominan petani. Ini menimbulkan kekeliruan interpretasi,” bebernya.
Pangi menguraikan, keberhasilan politik cerdas sangat bergantung pada penyelesaian masalah mendasar masyarakat. Kebutuhan praktis seperti penanganan jalan rusak hingga ketersediaan sembako menjadi isu nyata yang harus diselesaikan di lapangan. Pendekatan kampanye wajib mencermati peta demografi, karakter wilayah urban, serta isu lokal yang diminati publik.
Lonjakan tren elektoral, ulasnya, senantiasa bergeser seiring intensitas gerakan calon di lapangan. Pembentukan citra terintimidasi atau terzalimi bahkan terbukti mampu membalikkan keadaan politik dalam periode tertentu. Di samping itu, konsistensi pendampingan warga secara berkelanjutan usai pemilu menjadi modal berharga bagi kepercayaan jangka panjang.
“Nah, proyeksi biaya politik pada agenda pemilu mendatang diperkirakan melonjak hingga 30% setiap lima tahun. Pengeluaran kampanye di banyak titik belum tentu terkonversi otomatis menjadi suara,” sambungnya. “Waspadai kelompok undecided voters dan silent voters dari kalangan intelektual yang ceruknya mencapai 10%, karena berpotensi mengubah peta kemenangan secara mendadak,” imbuhnya.
Membaca survei, ulasnya, jika hasilnya masih tipis atau berada di bawah, justru memberi keuntungan psikologis agar kandidat tidak cepat lengah. “Rasa terancam justru mendorong terus bersiap menjaga basis suara hingga hari pencoblosan,” pesannya mengingatkan.
Merespons paparan tersebut, Ketua DPD Partai Golkar Bali, Gde Sumarjaya Linggih, menekankan pentingnya komitmen etik dan efisiensi perjuangan politik kader. Pria yang akrab disapa Demer ini mempertanyakan prinsip dasar perjuangan dalam meraih kemenangan di daerah pemilihan. “Kita pilih menang tercela atau kalah terhormat? Kalau bisa menang terhormat. Investasi politik jangka panjang jangan sampai tertinggal hanya karena sibuk menggarap daerah pemilihan baru,” tegas Demer, sapaan akrabnya.
Demer minta seluruh kader menetapkan daerah pemilihan secara final, serta fokus merawat basis massa yang telah terbangun. “Strategi penataan struktur dan manajemen caleg harus diarahkan agar lebih efektif, efisien, dan memberi manfaat langsung bagi kepentingan masyarakat luas,” ulasnya memungkasi. hen
























