KARANGASEM – Harga komoditas cabai di Kabupaten Karangasem, Bali, sampai kini masih terasa “pedas”. Jika beberapa pekan lalu harga cabai mencapai Rp125 ribu per kilo, kini sudah ada penurunan dengan harga Rp90 ribu.
Nengah Suarti, pedagang bumbu di Pasar Amlapura Barat, mengutarakan untuk saat ini kondisi harga bumbu lumayan stabil. Hanya, harga cabai sekitar seminggu lalu mengalami penurunan.
“Sekarang sudah dekat Hari Raya Galungan, kemungkinan akan terjadi kenaikan lagi. Apalagi ini cabai datangnya bukan dari petani lokal, datangnya dari luar Bali. Kalau yang saya jual ini cabainya dari Jawa,” ujarnya, Senin (29/3/2021).
Dikatakan Suarti, cabai datang dari luar Bali karena saat ini petani lokal jarang punya cabai. Bisa jadi karena beralih musim tanam, atau banyak cabai mereka rusak lantaran musim hujan dengan intensitas tinggi belakangan ini.
Dari pantauan lapangan, kondisi petani cabai di Karangasem rerata sudah beralih tanaman. Salah satunya di areal persawahan di Dusun Abang Kelod dan Dusun Ababi, Kecamatan Abang.
Made Kuta, salah seorang petani penggarap lahan, mengungkapkan, saat ini musim tanam di sawah kawasan itu sudah beralih. Sekarang mereka mulai menanam padi, setelah empat bulan lalu menanam cabai. “Karena musim hujan, sebagian besar yang punya lahan cabai ada yang rusak, ada juga yang panen hanya beberapa,” tuturnya.
Dia mendaku sudah biasa seperti itu. Jarang ada petani di wilayah itu punya cabai, kalaupun ada pasti harganya lumayan mahal karena langka. Kalau stok banyak, otomatis harga turun. “Ini kadang saya sebagai petani sulit untuk strategi pola tanam, karena bergantung faktor musim juga,” pungkasnya. nas























