Cegah Perundungan, Sekolah Harus Jadi Ruang Aman dan Nyaman

SEKRETARIS Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar, Ni Made Ayu Agustini, foto bersama usai membuka Workshop Mewujudkan Satuan Pendidikan Aman dan Nyaman Melalui Pencegahan Perundungan dan Tindak Kekerasan” yang digelar Disdikpora Kota Denpasar di Aula BPMP Bali, Rabu (19/8/2026). Foto: ist
SEKRETARIS Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar, Ni Made Ayu Agustini, foto bersama usai membuka Workshop Mewujudkan Satuan Pendidikan Aman dan Nyaman Melalui Pencegahan Perundungan dan Tindak Kekerasan” yang digelar Disdikpora Kota Denpasar di Aula BPMP Bali, Rabu (19/8/2026). Foto: ist

POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Pemerintah Kota Denpasar terus melakukan berbagai upaya, untuk mencegah praktik perundungan (bullying) di sekolah. Sehingga proses belajar mengajar berlangsung aman, nyaman, ramah, dan menggembirakan bagi seluruh peserta didik.

‘’Bagaimana membangun sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan berbudaya agar sejalan dengan visi Pemerintah Kota Denpasar, yaitu Kota Kreatif Berbasis Budaya Menuju Denpasar Maju. Karena itu, perundungan dan kekerasan bukan persoalan yang boleh didiamkan, tapi perlu mencegah sejak awal. Mengenali tanda-tandanya dan mengambil langkah yang tepat ketika terjadi,’’ kata Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar, Anak Agung Gede Wiratama, dalam sambutan yang dibacakan Sekretaris Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar, Ni Made Ayu Agustini, saat membuka Workshop Mewujudkan Satuan Pendidikan Aman dan Nyaman Melalui Pencegahan Perundungan dan Tindak Kekerasan” yang digelar Disdikpora Kota Denpasar di Aula BPMP Bali, Rabu (19/8/2026).

Read More

Dikatakan, pemerintah terus memperkuat program sekolah ramah anak, guna menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, ramah, dan menggembirakan bagi peserta didik. Pemerintah melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026 menegaskan bahwa sekolah harus menjadi lebih dari sekadar tempat belajar, namun juga menjadi rumah yang aman dan nyaman bagi anak dalam proses tumbuh kembangnya.

Diharapkan semua pihak bersinergi membangun budaya sekolah yang aman secara fisik, nyaman secara psikologis, dan kondusif secara sosial. Sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga representasi “rumah kedua” bagi peserta didik, pentingnya sekolah sebagai ruang yang menggembirakan sehingga anak-anak dapat merasa seolah berada di rumah sendiri: aman, terlindungi, dan diberi ruang untuk berkembang sesuai potensinya.

‘’Menciptakan sekolah aman dan nyaman bukan hanya menjadi tanggung jawab satu pihak. Ini adalah tanggung jawab kita bersama, pemerintah, sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua dan seluruh warga sekolah,’’ tegasnya.

Karena itu diingatkan, kegiatan ini tidak berhenti pada pemahaman materi. Setelah kembali ke sekolah, para guru dan anak-anak OSIS dapat menjadi penggerak perubahan. Ada komitmen, ada tindakan dan ada perubahan.

‘’Mari kita bersama-sama membangun satuan pendidikan yang tidak hanya menghasilkan anak-anak yang cerdas, tetapi juga anak-anak yang berkarakter, memiliki empati, saling menghargai perbedaan dan mampu menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi sesamanya,’’ tegasnya.   

Agenda workshop yang digelar selama dua hari Rabu-Kamis (19-20/8/2026) diikuti unsur Waka Kesiswaan, guru BK, dan pengurus OSIS. Ada tiga materi yang disampaikan dalam workshop yakni kebijakan pencegahan perundungan dan tindak kekerasan, regulasi Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026, dan urgensi penerapan budaya sekolah aman dan nyaman (BSAN). tra

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.