POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Pemerintah Kota Denpasar melalui Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) terus berupaya mewujudkan pendidikan inklusi jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Salah satu langkah strategis yang ditempuh adalah dengan menggelar Workshop Peningkatan Kompetensi dan Kualifikasi bagi Guru PAUD se-Kota Denpasar dengan tema “Pendidikan Inklusi Jenjang PAUD Kota Denpasar” di SD Negeri 26 Dangin Puri, Rabu (19/8/2026).
Kadisdikpora Kota Denpasar, Anak Agung Gede Wiratama, dalam sambutan yang dibacakan Kabid Pembinaan Ketenagaan Disdikpora Kota Denpasar, Ida Ayu Putu Mirah Ulantari, mengatakan, masa usia dini merupakan masa yang sangat penting dalam kehidupan seorang anak. Pada tahap inilah berbagai aspek perkembangan anak, baik kognitif, bahasa, sosial-emosional, fisik-motorik, maupun nilai-nilai karakter, berkembang dengan sangat pesat.
‘’Oleh karena itu, setiap anak perlu mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh, berkembang, belajar, dan bermain sesuai dengan potensi serta kebutuhannya,’’ ujarnya.
Disebutkan, pendidikan inklusi pada jenjang PAUD memiliki peran yang sangat penting dalam memastikan bahwa tidak ada anak yang tertinggal atau merasa berbeda karena kondisi dan kebutuhannya. Setiap anak adalah pribadi yang unik. Ada anak yang berkembang sesuai tahapan pada umumnya, ada pula anak yang membutuhkan dukungan, pendampingan, dan pendekatan pembelajaran yang berbeda.
‘’Di sinilah peran kita sebagai pendidik menjadi sangat penting. Guru dituntut untuk mampu menciptakan lingkungan belajar yang ramah anak, aman, nyaman, menyenangkan, dan menghargai setiap perbedaan. Pendidikan inklusi bukan sekadar menerima semua anak di satu lembaga pendidikan, tetapi bagaimana memberikan layanan yang sesuai agar setiap anak dapat berkembang secara optimal,’’ lugasnya.
Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi ruang bagi guru untuk berbagi pengalaman dan praktik baik. Belajar bersama bagaimana melakukan observasi perkembangan anak, mengenali kebutuhan anak sejak dini, membangun komunikasi yang baik dengan orang tua, serta menciptakan pembelajaran yang fleksibel dan menyenangkan bagi semua anak.
‘’Yang tidak kalah penting, pendidikan inklusi membutuhkan kolaborasi. Guru tidak dapat bekerja sendiri. Diperlukan kerja sama antara satuan PAUD, pendidik, orang tua, tenaga kependidikan, dan berbagai pihak terkait. Dengan kolaborasi yang baik, kita dapat memberikan dukungan yang lebih tepat bagi setiap anak,’’ sebutnya.
Lebih jauh lagi, setelah mengikuti kegiatan ini, akan lahir lebih banyak praktik pembelajaran yang inklusif, kreatif, dan berpihak pada kebutuhan anak. Satuan PAUD menjadi tempat yang membuat setiap anak merasa diterima, dihargai, dicintai, dan memiliki kesempatan untuk berkembang sesuai potensinya. tra






















