Harga Babi Melonjak, Pengepul Khawatir Konsumen Menurun

  • Whatsapp
PETERNAK babi di Karangasem. Melonjaknya harga daging babi beberapa pekan terakhir membuat para pengepul susah, karena penjualan tidak stabil. Foto: nad
PETERNAK babi di Karangasem. Melonjaknya harga daging babi beberapa pekan terakhir membuat para pengepul susah, karena penjualan tidak stabil. Foto: nad

KARANGASEM – Melonjaknya harga daging babi beberapa pekan terakhir membuat para pengepul susah, karena penjualan tidak stabil. Konsumen malah menurun akibat harga daging babi mencapai Rp85 ribu sampai Rp 100 ribu.

Pengepul daging asal Dusun Abang Kelod, Desa Abang, Karangasem, Ni Wayan Putu, Rabu (27/1/2021) berkata harga daging babi naik tajam. Dari semula Rp70 ribu per kilo sekarang mencapai Rp80 ribu hingga Rp85 ribu di pasar lokal. Meski harga naik, permintaan justru tidak stabil.

Bacaan Lainnya

“Biasanya saya potong babi yang berat 80 kg sampai 200 kg itu tiga hari sudah habis terjual. Tapi sekarang konsumen menurun, yang 80 kg saja dalam waktu 2-3 hari belum habis terjual,” keluhnya.

Menurut salah seorang peternak kecil rumahan, I Nengah Adi, melonjaknya harga daging babi saat ini memang sangat drastis. Dia menduga itu lantaran langkanya babi yang kemarin sempat berkurang populasinya usai dihajar virus ASF. Di Karangasem banyak babi dan indukan mati karena virus tersebut. Banyak waktu itu babi yang dijual murah, harganya antara Rp10 ribu sampai Rp15 ribu per kilo.

“Ada yang dipotong dengan sistem mepatung daripada babinya mati mendadak kena virus. Sekarang bibit babi harganya mencapai 1,2 juta sampai 1,3 juta per ekor yang umurnya tiga bulan, yang sudah lepas dari indukan,” tuturnya.

Baca juga :  Bali Tambah 3 Kasus Positif Covid-19 dari Transmisi Lokal, Sembuh Bertambah 4 Orang

Langkanya daging babi saat ini, kata dia, banyak peternak kesulitan mencari bibit karena peternak besar pada umumnya tidak banyak memiliki stok. Jika mencari di peternak rumahan, yang punya bibit beberapa ekor saja, karena rata-rata di dusun wilayah Karangasem yang memiliki indukan paling satu atau dua ekor saja.

Mereka yang memelihara indukan di rumahan itu, jelasnya, sebenarnya sekadar memelihara untuk sambilan. Jika butuh sewaktu-waktu bisa dijual untuk menutupi kebutuhan keluarga.

Seorang peternak babi indukan, I Ketut Widnyana, asal Dusun Tiying Tali, Desa Tiying Tali, Kecamatan Abang, berujar kondisi peternakannya masih stabil. Meski sempat ada virus ASF, dia menyebut babi di kandangnya tidak ada yang terkena. Sementara dia masih punya 15 indukan babi yang dibeli di Bangli. Ada beberapa yang melahirkan bibitan yang sudah berumur hampir dua bulan,” ungkap Widnyana. nad

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.