POSMERDEKA.COM, MATARAM – Dugaan tindak pidana korupsi yang menyeret Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL), kini melebar ke institusi lain. Sebab, pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diduga melakukan pemerasan ke SYL. Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Umum DPN Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Fahri Hamzah, mengaku tak heran dengan kasus dugaan pemerasan pimpinan KPK. Dia pun mendukung KPK untuk tidak gentar melawan langkah SYL yang mengadukan dugaan pemerasan tersebut ke Polda Metro Jaya.
Menurutnya, tuduhan ke KPK akan kembali muncul manakala komisi antirasuah itu berani melawan petinggi parpol yang dekat dengan lingkaran kekuasaan. Kasus yang membelit pimpinan KPK saat ini serupa dengan kriminalisasi pada KPK sebelumnya. “Kalau banyak yang bilang tidak mendukung KPK, kalau saya tetap, kita semuanya harus terus memberi dukungan pada upaya pemberantasan korupsi. Meski pimpinan lembaganya kita benci karena musuh politik atau masalah pribadi, maju terus KPK,” papar Fahri dalam pesan WhatsApp, Senin (9/10/2023).
Caleg DPR RI Dapil Pulau Sumbawa ini menegaskan, pernah ada peristiwa pimpinan KPK dituduh membocorkan dokumen ESDM. “Sekarang dituduh memeras, dan ini disampaikan dengan konferensi pers resmi kepolisian, dinamakan corruptor fight back atau minimal serial cicak vs buaya,” jelas mantan Wakil Ketua DPR RI itu.
Fahri yakin usai kepolisian menaikkan kasus penyelidikan dugaan pemerasan ke SYL yang dilakukan pimpinan KPK, biasanya akan diikuti dengan banyak tokoh masyarakat, yang berafiliasi kepada kelompok tertentu, melakukan aksi demonstrasi di gedung KPK. Padahal aksi-aksi itu biasanya ditunggangi oknum koruptor yang sedang ingin mematikan KPK.
Lebih jauh diuraikan, biasanya kelompok itu akan melakukan aksi dengan mengikat kepala bertuliskan “LAWAN!”. Aksi demo bisa dilakukan sampai berbulan-bulan, sampai Presiden turun tangan untuk “menyelamatkan KPK”. Begitu seterusnya berjilid-jilid. Fahri mengklaim percaya dengan KPK.
Fahri melihat pimpinan KPK sejauh ini tidak membuat bantahan apa pun dalam dugaan kasus pemerasan di Kementan. Padahal, sambungnya, perlu juga semua pimpinan KPK melakukan bantahan secara bersama-sama, agar institusi terlihat kompak dan solid.
“Tapi memang sebaiknya tetap demikian, gejolak kecil sebagai pertanda kita masih hidup di alam kebebasan. Siapa menabur angin akan menuai badai. Dan, memang melawan ranjau ini bukan masalah institusi, dan akhirnya perkaranya tidak terbukti. Tapi lebih baik diam dan bekerja saja,” paparnya.
Sebelumnya, Ketua KPK, Firli Bahuri, membantah tuduhan pemerasan terhadap Syahrul Yasin Limpo (SYL) saat masih menjadi Menteri Pertanian (Mentan). Dugaan ini muncul seiring tersebarnya foto pertemuan Firli Bahuri dengan Syahrul Yasin Limpo di sebuah lapangan bulutangkis. Foto itu disebut-sebut berkaitan dengan dugaan pemerasan ke SYL. Firli mengaku pertemuan itu hanya untuk olahraga.
“Untuk menjaga kebugaran dan kesehatan, saya memang saya sering melakukan olahraga bulu tangkis, ya setidaknya itu dua kali dalam seminggu,” sebut Firli dalam keterangannya yang disiarkan di Facebook KPK.
Firli mengklaim tidak mungkin bertemu dengan SYL di tempat terbuka seperti lapangan bulutangkis. Apalagi melakukan pemerasan senilai Rp1 miliar dalam bentuk pecahan dollar Singapura. “Apalagi kalau seandainya ada isu bahwa menerima sesuatu sejumlah 1 miliar dolar (Singapura), itu saya baca ya. Saya pastikan itu tidak ada, bawanya itu 1 miliar dollar (itu) banyak loh. Kedua, siapa yang mau ngasih 1 miliar dollar?” sambung Firli.
Kembali Firli mengaku tak pernah bertemu dengan SYL di tempat lain selain lapangan bulutangkis itu. Dia hanya berkomunikasi dengan SYL ketika bertemu di rapat terbatas atau sidang kabinet. rul
























