POSMERDEKA.COM, MATARAM – Pemberdayaan perempuan saat ini menjadi isu strategis nasional yang terus dan masih dilaksanakan di daerah. Konsep pemberdayaan perempuan yang masih banyak menempatkan perempuan sebagai objek, bukan subjek, menjadi salah satu kendala keberhasilan meski dikerjakan lintas sektoral dan melibatkan banyak pihak.
Caleg DPRD NTB dari Partai Golkar, Megawati Lestari, menilai program pemberdayaan perempuan harus mulai didorong pendekatannya agar perempuan menjadi subjek, bukan sekadar objek pemberdayaan. Salah satunya dengan kegiatan ekonomi kreatif. “Kalau mau berhasil optimal dan ada akselerasi, saya pikir harus ada perubahan pendekatan. Caranya dengan memberi wadah, aksesibilitas, dan kesempatan yang sama untuk berekspresi,” katanya, Senin (9/10/2023).
Lama sebagai aktivis perempuan untuk demokrasi, Megawati bertekad memberdayakan kaum perempuan dan menyediakan pendidikan berkualitas. Bagi dia, NTB yang terkenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan nasional, punya banyak alternatif yang bisa mendukung pemberdayaan perempuan. Konsep halal tourism dan moslem friendly destination yang menjadi branding, juga menjadi kekuatan tersendiri untuk menyediakan wadah serta akses bagi pemberdayaan perempuan.
“Branding NTB sebagai destinasi wisata bisa menjadi daya ungkitnya. Perlu diadakan banyak event, khususnya ekonomi kreatif (ekraf) penunjang pariwisata yang khusus untuk perempuan dan para santriwati,” bebernya.
Megawati menilai, peran pondok pesantren dan para santriwati sangat potensial dalam pemberdayaan perempuan secara luas. Tak sekadar memenuhi hak pendidikan perempuan, juga bagaimana para santriwati bisa turut berpartisipasi dan berkontribusi dalam pembangunan daerah. “Jumlah penduduk di NTB masih dominan perempuan, kemudian kita punya banyak santriwati dan alumni ponpes. Ini kekuatan luar biasa,” ungkapnya.
Dia menilai ada kegiatan yang nyambung dengan kepariwisataan bisa dilakukan, antara lain festival atau pameran ekraf perempuan dan santriwati. Di ajang ini mereka akan berekspresi dengan keterampilan dan produk UMKM yang dihasilkan. Dia menilai para santriwati alumni ponpes memiliki daya saing SDM yang mumpuni. Masalahnya, keterserapan mereka di dunia lapangan kerja belum optimal, baik di sektor formal maupun informal.
“Festival atau Pameran Ekraf Santriwati ini harus digagas dan bisa menjadi cikal bakal konsep pemberdayaan perempuan bisa sejalan dengan sektor kepariwisataan di NTB,” imbuhnya.
Dia mencontohkan NTB kini mulai dikenal sebagai trendsetter muslim fashion. Pada tahun 2023 saja ada empat event busana muslim tingkat daerah, nasional, maupun internasional. Jika event tersebut dikolaborasikan dan mengikutsertakan santriwati, dampaknya diklaim akan makin optimal dirasakan masyarakat.
Andai diberi amanah duduk di DPRD NTB, dia mengaku event festival dan pameran ekraf santriwati akan diperjuangkan. sebab, wadah ini akan sangat strategis bagi pemberdayaan perempuan di daerah ini. “Pemberdayaan perempuan harus holistik. Kita sudah bina kasih keterampilan dan dampingi, akan tetapi kalau wadah berekspresi tidak diciptakan maka akan percuma. Ini yang akan saya perjuangkan,” janjinya. rul
























