Dari “Workshop” Kurikulum Merdeka di SMPN 2 Denpasar, Ciptakan Kreativitas dan Suasana Belajar yang Bahagia

KADISDIKPORA Kota Denpasar, AA Gede Wiratama; didampingi I Gusti Agung Ayu Made Seni Wati, saat membuka workshop Kurikulum Merdeka di SMPN 2 Denpasar, Sabtu (21/5) lalu.
KADISDIKPORA Kota Denpasar, AA Gede Wiratama; didampingi I Gusti Agung Ayu Made Seni Wati, saat membuka workshop Kurikulum Merdeka di SMPN 2 Denpasar, Sabtu (21/5) lalu.

DENPASAR – SMPN 2 Denpasar telah siap untuk melaksanakan Kurikulum Merdeka mulai tahun ajaran 2022/2023. SMPN 2 Denpasar pun menyambut kurikulum tersebut dengan menggelar Workshop Implementasi Kurikulum Merdeka (IKW) yang digelar selama empat hari mulai, Sabtu- Selasa, 21-24 Mei 2022.

Agenda workshop bertemakan “Workshop Implementasi Kurikulum Merdeka dan E-Rapor Dalam Upaya Mewujudkan Merdeka Belajar Menuju Profil Pelajar Pancasila di SMPN 2 Denpasar” dibuka Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar, AA Gede Wiratama, Sabtu (21/5/2022). Agenda workshop yang diikuti 57 guru dan 24 pegawai SMPN 2 Denpasar itu menghadirkan narasumber dari Widyaiswara LPMP Bali, Suheldina Crisniwana,

Bacaan Lainnya

Plt. Kepala SMPN 2 Denpasar, I Gusti Agung Ayu Made Seni Wati, S.Pd., menjelaskan, workshop ini sebagai langkah untuk mempersiapkan guru-guru agar bisa melakukan Kurikulum Merdeka dengan baik dan berkualitas.
Ia menambahkan, tantangan bagi guru di Kurikulum Merdeka ini yaitu bagaimana guru mampu mengembangkan kurikulum dan mampu melayani karakteristik siswa yang berbeda.

Ia menambahkan, melalui workshop ini, seluruh guru di SMPN 2 Denpasar semakin andal dan teruji dalam menerapkan pembelajaran melalui metode diferensiasi. Diakuinya, pembelajaran berdiferensiasi cukup sulit, terutama jika guru tidak menguasai materi serta memahami karakter siswa.

Baca juga :  KPU Siap Hibahkan Ribuan Baju APD, Rival Ucapkan Selamat ke Pemenang Belum Membudaya

Selain itu, guru juga dituntut untuk mengetahui apa saja kebutuhan peserta didik dalam pembelajaran. Mengingat kerangka Kurikulum Merdeka komposisinya 70 persen pengetahuan dan 30 persen sisanya untuk proyek. Jadi guru juga harus membimbing siswa dalam pembelajaran proyek tersebut.

Kadisdikpora Kota Denpasar, AA Gede Wiratama, menuturkan, salah satu ruh kurikulum Merdeka Belajar adalah pendekatan pelayanan pembelajaran yang mengacu pada pendekatan bakat dan minat. Para pelajar dapat memilih pelajaran apa saja yang ingin dipelajari sesuai dengan bakat dan minatnya.

Kehadiran kurikulum ini, sambung Wiratama, merupakan salah satu bagian dari upaya pemerintah untuk mencetak generasi penerus yang lebih kompeten dalam berbagai bidang. Pada Merdeka Belajar terdapat kemandirian dan kemerdekaan bagi lingkungan pendidikan untuk menentukan sendiri cara terbaik dalam proses pembelajaran.

Dengan begitu menciptakan suasana belajar yang bahagia, baik bagi murid maupun para guru. Karena pada dasarnya program Merdeka belajar bertujuan untuk memerdekakan siswa dan guru, untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.

“Kami yakin, peningkatan kualitas pendidikan dimulai dari peningkatan kualitas para pendidiknya. Tidak hanya guru saja yang mendapat manfaat, tapi juga anak-anak didik tercinta kita,” ujar Wiratama menungkasi. tra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.